Archive for the ‘Nasehat’ Category

Alhamdulillah, sekarang website www.rumaysho.com bisa di buka secara offline dengan format CHM yang bisa di copy paste dan bisa melakukan pencarian kata, meski apa yang kami sajikan belum sempurna tetapi kami berharap semoga bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin semuanya.

download di sini

rumaysho versi 1.0 (9.45 Mb)

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam: 153)

Pada buletin edisi ke 14 kemarin, kita telah membahas secara singkat cara memahami islam yang benar, yakni berpedoman dengan al-qur’an dan as-sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Dan pada buletin kali ini kami akan melanjutkan pembahasan lanjutan edisi minggu lalu.

JALAN SELAMAT HANYA ADA SATU (yakni dengan mengikuti jejak para salafush shalih)

Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah,

Jalan keselamatan hanya akan ada satu, yaitu jalan yang telah dilalui generasi terbaik dari umat ini, mereka adalah generasi yang hidup sejaman dengan Rasulullah yakni para sahabat, kemudian generasi setelahnya yakni para tabi’in, kemudian generasi setelahnya yakni para tabi’ut tabi’in.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in), kemudian orang yang mengikuti mereka (para tabi’ut tabi’in).” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhari, Muslim)

Mereka adalah 3 generasi utama yang telah mendapat petunjuk dan ridha Allah, serta mereka telah mendapat jaminan surga. Barangsiapa yang mengikuti jejaknya, maka sesungguhnya dia telah menempuh jalan keselamatan.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pernah membuat garis (lurus) dengan tangannya, lalu beliau bersabda, “Inilah jalanku yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian beliau bersabda,’ Ini adalah jalan-jalan yang sesat, tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad dan Nasa’i)

Hadits diatas menunjukkan bahwa umat Islam ini akan dihadapkan dengan banyak sekali jalan, ada jalan yang melenceng ke kanan dan ada yang ke kiri, ada pula jalan yang miring akan tetapi seakan-akan terlihat lurus. Dan diantara banyak jalan yang miring itu ada 1 jalan yang lurus, bagi orang yang ingin melewati jalan tersebut harus dengan ilmu, harus dengan kehati-hatian. Akan banyak sekali rintangan yang berusaha menghambat jalan tersebut. Jalan yang lurus Itulah jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah dan para salafush shalih.

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa diantara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Sahabat Rasulullah r. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah jejak langkahnya, karena mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Atsar shahih, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Naar, dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/947 no.1810)

Imam Malik bin Anas (gurunya imam Asy-Syafi’i) berkata, “Generasi akhir umat ini tidak bisa menjadi baik kecuali dengan mengikuti generasi pertama mereka (para sahabat).” (Sya-Syifa, Qadhi ’Iyadh, II:88)

Imam Ahmad (murid imam Asy-Syafi’i) berkata, “Pondasi sunnah ,menurut kami adalah berpegang teguh kepada para sahabat dan meneladani mereka.” (dalam Al-Lalika’i, hal. 317) (lebih…)

Umat Islam kini telah terpecah belah, berkelompok-kelompok, satu sama lain saling membangga-banggakan golongannya. Ketika satu per satu golongan ditanya, “apa pengangan/rujukan kalian?” pasti mereka menjawab “rujukan kami Al-Qur’an dan Hadits Nabi”.

Jika kita melihat realita yang ada, contoh seperti orang-orang syiah, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur’an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah tersesat jauh, bahkan ada sebagian ulama  yang mengkafirkannya ?

Contoh yang lain missal Ahmadiyah, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur’an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah menyimpang dan tersesat jauh ?

Begitu pula dengan orang-orang yang berpemahaman khawarij, yang dengan seenaknya mengkafirkan saudara muslim yang lain tanpa bukti, bahkan melakukan tindakan teror dengan pengeboman di sana-sini, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur’an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah menyimpang dan tersesat jauh ?

Mungkin akan timbul dibenak kita, kenapa mereka bisa menyimpang dari ajaran Islam ini? padahal rujukan mereka sama yakni Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Bukankah ada sebuah hadits dari Rasulullah, Beliau bersabda, “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

lalu dimana salahnya?, sudah berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Hadits(sunnah) kok masih dikatakan tersesat dan menyimpang oleh para ulama.

Ini yang akan kita bahas pada buletin kali ini, bagaimana kita bisa memahami Islam dengan benar, agar kita tidak menyimpang dari jalan yang lurus. (lebih…)

TEROR KEMBALI TERJADI

      Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Jum’at, Negara kita kembali digoncangkan oleh sebuah ledakan bom di sebuah masjid yang sedang melaksanakan sholat jum’at . Sehingga kondisi yang tadinya sudah kondusif kembali menjadi gempar.

Siapa pelakunya ?

Kita tidak menuduh kelompok/golongan tertentu, akan tetapi jika yang melakukannya adalah orang yang mengaku Islam, bahkan mengatas namakan jihad, lantas apa tujuannya? dan bagaimana Syari’at Islam ini menilai tindakan tersebut.

Teror (Irhab)

      Teror yakni menakut-nakuti, mengancam, menumpahkan darah, dll, yang mana seluruh ulama-ulama kaum muslimin sepakat bahwa tindakan itu adalah HARAM dan juga menimbulkan kerusakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” [Al-A’raf : 56]

      Hukum Mengkafirkan Seorang Muslim Tanpa Bukti

      Seseorang tidak boleh memvonis kafir seorang muslim jika tidak memiliki bukti yang sangat kuat, dan itupun harus ulama yang memvonisnya, bukan setiap individu setiap muslim, karena jika orang yang dikafirkan itu ternyata tidak kafir, maka kata-kata kafir tersebut akan kembali kepada si penuduh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61) (lebih…)

Kita sekarang berada di akhir zaman, yang mana berbagai macam dosa, maksiat dan fitnah merajalela, sehingga bagi orang yang rapuh aqidahnya akan sangat mudah terbawa arus tersebut. Arus yang akan membawa seorang muslim menuju jurang kehancuran.

Seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat manakala ia tidak/enggan untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu agama sangatlah penting bagi seorang muslim, sehingga tidak mengherankan jika Imam Bukhari menulis di dalam kitabnya Shahih Bukhari beliau membuat bab “Ilmu wajib dituntut sebelum Beramal”.

Ya, itu yang sekarang banyak ditinggalkan kaum muslimin, banyak dari kaum muslimin yang mencukupkan diri dengan apa yang telah dipelajari dari orang tuanya dahulu, dari sekolahannya dahulu tanpa mau mempelajarinya lagi dengan membaca buku-buku para ulama, karena bisa jadi apa yang disampaikan orang tua kita dahulu belum sesuai dengan syari’at.

Tidak mau belajar agama karena takut dosa

Sering kita menyaksikan, ketika ada seseorang yang diajak untuk belajar agama dia berkata “Nggak, takut kalau tahu itu dosa”, “Nggak, nanti malah repot kalau tahu itu dosa” dan perkataan lain yang muncul dari lisan kaum muslimin yang enggan belajar agama.

Betapa bodohnya perkataan-perkataan itu. Apakah kita fikir jika kita enggan mempelajari agama trus kita tidak berdosa? salah besar jika kita berfikiran seperti itu.

Saudaraku yang semoga di muliakan Allah,

Bedakan perkataan “Tidak Tahu dengan Tidak Mau Tahu”, Apa bedanya ? (lebih…)

“Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah akan memberikannya pemahaman terhadap Agama.”

(Shahih ibnu majah)

 

Pentingnya ilmu agama

Sangat sedikit sekali kaum muslimin yang mau mendalami dan mempelajari agamanya, padahal di zaman sekarang sangatlah mudah untuk mempelajarinya, sudah banyak tersebar buku-buku agama, kajian-kajian di masjid-masjid, bahkan sekarang sudah ada fasilitas internet yang sangat membantu kita untuk mencari semua itu. Tapi masih banyak sekali kaum muslimin yang belum tergerak hatinya untuk mempelajari agamanya.

Masyarakat kaum muslimin lebih mengutamakan ilmu dunianya dari pada ilmu akhiratnya. Kita melihat banyak kaum muslimin yang berusaha memasukkan anak-anaknya ke lembaga bimbingan belajar untuk belajar bahasa inggris, matematika, atau pelajaran umum lainnya, tetapi amat sangat sedikit para orang tua yang memasukkan anak-anaknya ke madrasah/pondok/lembaga-lembaga yang mempelajari ilmu agama.

Mempelajari ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap mukmin sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, ”Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.” (Shahihul Jami’ 3913)

Bukan suatu yang dilarang untuk belajar ilmu dunia, bahkan itu sangat dianjurkan agar kaum muslimin semakin maju di bidang teknologi, akan tetapi jika kita hanya mengejar ilmu dunia tanpa mempelajari ilmu agama maka amat sangat meruginya kita, padahal ilmu yang bisa menghantarkan kita ke surga dan yang bisa menjauhkan kita dari api neraka adalah ilmu agama.

Bahaya mempelajari ilmu dunia tanpa mempelajari ilmu agama

Sudah banyak kita saksikan para intelektual yang terjerumus oleh ilmunya sendiri. Seperti orang-orang yang duduk di pemerintahan, mereka bukanlah orang yang bodoh dalam ilmu dunia akan tetapi ilmu yang telah mereka pelajari mereka salahgunakan untuk mendapatkan keuntungan dunia.

Sudah sangat banyak kita mendengar dan melihat kasus korupsi, baik di pemerintahan tingkat atas sampai ke pemerintahan tingkat bawah. Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu ? Ya…. itu salah satu contoh bahaya orang yang sibuk mempelajari ilmu dunia tetapi enggan untuk berusaha mempelajari dan mendalami ilmu agama ilmu agama. Mereka pandai dalam ilmu dunia tetapi bodoh dalam ilmu agama. Padahal ilmu agamalah yang bisa mencegah dan membatasi seseorang dari perbuatan dosa dan maksiat. (lebih…)

Berawal dari fenomena keprihatinan situasi di negara-negara Islam akhir-akhir ini banyak termuat di media massa baik di elektronik, maupun surat kabar. Dari berbagai peristiwa itu, mengakibatkan keadaan kaum muslimin di seluruh dunia semakin lama kian melemah keadaannya. Bersamaan dengan waktu, kebodohan semakin merajalela. Agama pun hanya menjadi ritual di masjid saja. Api keributan antar sesama semakin lama semakin bertambah membara, hingga pada akhirnya para musuh yang dahulu takut kepada kaum muslimin, kini mereka semakin berani terhadap umat Islam.

Suatu hal yang sudah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, demikian juga oleh sebagian besar non muslim, bahwa umat dan daulah Islam terdahulu adalah bangsa yang paling kuat dan mulia di belahan dunia, sekalipun mereka adalah penduduk minoritas di atas muka bumi ini. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun dalam waktu yang panjang, tanpa ada seorangpun yang menentang tentang hal ini. Adapun sekarang! Telah berubah menjadi negara-negara Islam yang kecil dan lemah, meski penduduknya mayoritas di atas muka bumi.

Apa yang Telah Terjadi? Mengapa Bisa Demikian?

Pertanyaan ini selalu berputar-putar dalam benak kaum muslimin. Dan setiap kelompok atau golongan mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan caranya masing-masing, mencarikan jalan keluar untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin seperti dahulu, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak memahami faktor utama penyebab kelemahan, keterbelakangan, serta takluknya kaum muslimin di hadapan negara-negara barat. Mereka pun merancang program untuk memecahkan masalah ini kemudian berjalan di atasnya, dengan dugaan kejayaan kemuliaan dan kekuasaan kaum muslimin di abad-abad pertama akan terwujud dengan langkah yang mereka tetapkan.

Akan tetapi hal yang sebenarnya, mereka telah salah jalan, walaupun sebagian besar dari mereka melakukannya dengan ikhlas untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dalam mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin seperti dahulu. Sebagian dari mereka menyangka bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah solusi pemecahannya.

Untuk menuju hal itu maka kaum muslimin harus mengumpulkan peralatan-peralatan  canggih dan modern, pemuda-pemuda Islam harus meraih ijasah setinggi-tingginya. Maka setelah semua hal itu tercapai, kita akan menang dan orang-orang kafir-pun akan tunduk dan kita akan kembali jaya seperti sedia kala.

Hal ini bertentangan dengan apa yang di firmankan Allah subhanahu wa ta’ala :

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS: Al-Munafiqun: 8) (lebih…)