TEROR KEMBALI TERJADI

      Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Jum’at, Negara kita kembali digoncangkan oleh sebuah ledakan bom di sebuah masjid yang sedang melaksanakan sholat jum’at . Sehingga kondisi yang tadinya sudah kondusif kembali menjadi gempar.

Siapa pelakunya ?

Kita tidak menuduh kelompok/golongan tertentu, akan tetapi jika yang melakukannya adalah orang yang mengaku Islam, bahkan mengatas namakan jihad, lantas apa tujuannya? dan bagaimana Syari’at Islam ini menilai tindakan tersebut.

Teror (Irhab)

      Teror yakni menakut-nakuti, mengancam, menumpahkan darah, dll, yang mana seluruh ulama-ulama kaum muslimin sepakat bahwa tindakan itu adalah HARAM dan juga menimbulkan kerusakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” [Al-A’raf : 56]

      Hukum Mengkafirkan Seorang Muslim Tanpa Bukti

      Seseorang tidak boleh memvonis kafir seorang muslim jika tidak memiliki bukti yang sangat kuat, dan itupun harus ulama yang memvonisnya, bukan setiap individu setiap muslim, karena jika orang yang dikafirkan itu ternyata tidak kafir, maka kata-kata kafir tersebut akan kembali kepada si penuduh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61)

Hukum Menakut-Nakuti Seorang Muslim

Pernah ketika dalam suatu perjalanan, ada salah seorang sahabat yang tidur, kemudian sebagian sahabat yang diam-diam mengambil anak panahnya, kemudian mengambilnya. Lalu sahabat yang tertidur tadi terbangun dan terkejut karena anak panahnya ada yang mengambil. Ketika melihat sahabatnya yang terkejut, sahabat yang lain pun tertawa, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Apa yang membuat kalian tertawa ?” mereka berkata : Tidak, kami hanya (bercanda dengan) mengambil anak panah orang ini, lalu ia terkejut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain” (HR. Ahmad)

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti-nakuti muslim lainnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami tidaklah dia dari golongan kami..” (HR. Bukhari)

Hadits-hadits diatas menjelaskan, bahwa tidak boleh seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain. Jika menakut-nakuti saja tidak boleh meskipun hanya sekedar bersenda gurau, lalu bagaimana jika sampai menyakiti, bahkan sampai membunuh kaum muslimin ?

Suatu ketika ada seorang laki-laki lewat di depan masjid dengan membawa beberapa anak panah dengan menampakkan mata panah-panah tersebut. Maka orang tersebut disuruh untuk memegang mata panahnya agar tidak melukai seorang muslim. (HR. Muslim)

Betapa indahnya agama Islam ini, sehingga sangat menjaga keselamatan seseorang, sehingga jika ada orang yang membawa sesuatu yang tajam yang nampak oleh orang banyak, segera diperintahkan untuk menutupnya (menyimpannya) agar jangan sampai melukai orang lain.

Jika hal yang sekecil itu saja tidak diperbolehkan dalam agama Islam, bagaimana hukumnya jika bom yang sedahsyat itu diledakkan ditengah-tengah orang banyak, bahkan kepada kaum muslimin.

Hukum Membunuh Orang, Baik Orang Muslim Atau Kafir

      Orang kafir terbagi menjadi empat. Tiga diantaranya haram untuk di bunuh/diperangi yakni

  1. Kafir dzimmi (yakni orang kafir yang berada di bawah perlindungan dan penjagaan kaum Muslimin dengan sebab upeti (jiz-yah) yang mereka bayarkan)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya bau surga tercium dari perjalanan 40 tahun.” (HR. An Nasa’I, dishahihkan Al-Albani)

  1. Kafir mu’ahad (yakni orang kafir yang memiliki perjanjian damai yang disepakati)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ingatlah, siapa yang mendzolomi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebani di atas kemampuannya / mengambil sesuatu darinya tanpa keridhoan dirinya, maka saya (yakni Rasulullah) adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (445))

  1. Kafir musta’man (yakni orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari seluruh/sebagian kaum muslimin)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah : 6)

Sedangkan orang kafir yang 1 lagi adalah kafir harbi, yakni orang kafir yang terang-terangan memerangi/berperang dengan umat muslim (seperti orang-orang yahudi yang memborbardir saudara kita di Palestina), golongan kafir ini boleh di perangi.

Orang-orang non muslim yang tinggal di negara kita dan yang ada di sekitar lingkungan kita, mereka itu termasuk kedalam 3 golongan orang yang haram untuk diganggu apalagi di tumpahkan darahnya.

Jika orang kafir di jaga dan dilindungi hak-haknya serta di haramkan untuk diperangi apalagi dibunuh, bagaimana jika yang dibunuh orang Islam?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [An-Nisa : 93]

Membunuh Seorang Mukmin, Tidak Akan Diterima Ibadahnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang mukmin, lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah, juga amalan wajibnya.” (HR. Abu Dawud, Shahih lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2450)

Azab Bagi Orang Yang Bunuh Diri, Sekalipun Mengatas Namakan Jihad (Bom Syahid)

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda       , “barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka kelak ia akan disiksa dengan sesuatu tersebut pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” (Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109)

Apakah Pelaku Bom bunuh Diri Jika Dia Mati, Apakah Dia Mati Syahid atau Tidak ?

Bahkan kita tidak pantas mengatakan dia mati syahid atau tidak, akan tetapi kita katakan, apakah dia diampuni oleh Allah atau tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan kafir atau seorang laki-laki yang membunuh mukmin lainnya dengan sengaja.” (HR. Ahmad no.16302, dengan sanad baik)

Itu jika pelaku peledakan bom tidak bertaubat sebelum mati, akan tetapi jika dia bertaubat sebelum mati, maka Allah akan mengampuninya, akan tetapi dosa dia terhadap manusia tetap akan diadili di hari kiamat.

      Apakah Jika Pelaku Peledakkan Bertaubat, Taubatnya Akan Diterima ?

      Seorang pelaku pembunuh/pelaku teror, jika ia bertaubat kepada Allah pasti Allah akan mengampuni, akan tetapi dosa dia terhadap manusia (orang yang dibunuhnya) tetap akan di adili pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Orang yang terbunuh dan si pembunuh akan di hadapkan pada hari Kiamat kelak, sementara yang terbunuh akan membawa kepala dengan tangannya, sedang dari lehernya mengalirkan darah, lalu ia berkata; “Ya Rabb, orang ini telah membunuhku, ” sampai ia didekatkan ke ‘arsy, ” Lalu orang-orang menyebutkan kepada Ibnu Abbas, (apakah si pembunuh) mendapat ampunan?, Maka Ibnu Abbas membacakan ayat; Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam. (QS An-Nisa`: 93), karena itu bagaimana mungkin dia mendapatkan ampunan?. (HR. Tirmidzi, Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sebagaimana sabda Rasulullah yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,    “Allah memberikan pengampunan kepada orang yang mati syahid, yaitu segala sesuatu yang menjadi dosanya, melainkan hutang.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: “Mati dalam peperangan fisabilillah itu dapat menutupi segala macam dosa, melainkan hutang.”

      Hadits-hadits diatas adalah bukti bahwa dosa itu bukan hanya kepada Allah saja, akan tetapi juga ada dosa kepada manusia, sehingga orang yang masih mempunyai masalah/tanggungan terhadap manusia jika dia belum menyelesaikan urusannya di dunia, pasti Allah akan mengadilinya di Akhirat.

Apakah Boleh Kita Mengatakan Seorang Itu Mati Syahid ?

Tidak boleh kita mengatakan kepada seseorang, bahwa dia mati syahid, apakah dia seorang yang benar-benar berjihad di medan peperangan, apalagi orang yang melakukan teror.

Karena memutuskan apakah dia mati syahid atau tidak, itu adalah haknya Allah, karena jika kita mengatakan si fulan mati syahid, berati kita telah memastikan bahwa dia masuk surga. padahal yang menentukan seseorang itu masuk surga atau tidak, itu hanya haknya Allah, semua orang tidak berhak memutuskannya, kecuali jika yang mengabarkan seorang itu syahid adalah Nabi, karena Nabi berbicara bedasarkan wahyu dari Allah.

Sehingga Imam Bukhari membuat BAB “Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid”. Beliau berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. “Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si fulan syahid, dan si fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid” (HR.Riwayat Ahmad, sanad hasan)

      Alangkah jahilnya seseorang yang berani mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan mengatakan “si fulan syahid….si fulan syahid” atau juga sering kita dengar perkatakan “syahid fulan”

      Kembali kami mengajak kepada kaum muslimin semuanya untuk senantiasa mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, serta mengamalkannya, karena dengan itu kita bisa memilih mana ajaran-ajaran yang sesuai syari’at dan mana ajaran-ajaran yang menyimpang dari syari’at.

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya dan semoga Allah meneguhkan kita diatas tauhid, dan menunjuki kita jalan yang lurus. Amiin


[ dikutip dari kajian ilmiah Ust. Abu Zubeir Al-Hawaary, LC ]

[Adi Abdussalam]

Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 11


Komentar
  1. menarik artikelnya …:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s