Islam adalah agama Tauhid, yang mengajak manusia untuk menyembah Allah saja dan tidak menjadikan sekutu selain-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta‘ala :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun…”.  (QS.An-Nissa’ : 36).

Begitu pula inti dakwah para Nabi dan Rasul tidak lain untuk mengajarkan tauhid kepada manusia dan melarang berbuat syirik. Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS. An-Nahl : 36)

Yang dimaksud dengan beribadah dan menyembah kepada selain  Allah tidak hanya diartikan dengan menyembah berhala, patung, dsb. Akan tetapi juga termasuk beribadah dan menyembah kepada selain Allah adalah dengan menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tempat memohon, meminta dan berlindung.

Sebagai contoh yang banyak sekali tersebar di masyarakat. Banyak orang yang menggunakan jimat, ada yang berupa cincin (akik), keris, rajah, susuk, ada yang berupa janur atau yang lainnya yang digantungkan di pintu rumah. Ada juga yang mempercayai dukun, paranormal, kyai yang dianggap memiliki kekuatan ghoib, orang pintar, percaya dengan ramalan bintang / zodiak, kartu,sihir, dll banyak sekali. Ya… itu hanya beberapa contoh kecil.

Jika mereka meyakini bahwa benda tersebut yang mendatangkan manfaat, bisa menolak keburukan, bisa mendatangkan rezeki, maka ia telah melakukan syirik besar, jika orang tersebut mati sedangkan ia belum bertaubat maka ia mati dalam keadaan di luar islam (kafir), tetapi jika ia tetap meyakini yang memberikan semua itu adalah Allah akan tetapi benda tersebut diyakini hanya sebagai perantara saja maka ia telah terjerumus kedalam kekufuran. Perbedaan antara kekufuran dengan kekafiran sangatlah tipis. Sehingga sangatlah mungkin orang yang tadinya hanya melakukan kekufuran, kemudian syaitan menjerumuskannya hingga ia masuk ke dalam syirik besar yang ia tidak sadari.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda : “Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939).

Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) …” (QS. An Nisaa: 48)

Bentuk kesyirikan lainnya yang tersebar dimasyarakat adalah kepercayaan masyarakat tentang adanya tanggal/hari/bulan sial, sehingga jika akan melakukan hajatan harus menghitung/mencari tanggal dan bulan yang baik, ada juga yang melakukan ritual-ritual sesaji, melarung sesaji ke laut/ke gunung, ngalap berkah, dll

Kebanyakan masyarakat muslimin mempercayai itu hanya sebatas ikut-ikutan (mengekor / taqlid) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Pasti mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu, sesepuh atau tradisi nenek moyang yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.

Saudaraku yang semoga di muliakan Allah, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?

Perlu diketahui bahwa tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin 90% berasal dari kepercayaan animisme dan dinamisme yakni dari ajaran agama Hindu. Hal ini berdasarkan penelitian dari seorang mualaf Hindu, yang dahulunya seorang pandita yang berkasta Brahmana, beliau sekarang menjadi da’i yang menyampaikan kepada kaum muslimin bahwa apa yang telah dikerjakan oleh umat muslim selama ini berasal dari ritual ajaran agama Hindu. Beliau sampai membuat buku, yang di dalamnya terdapat 200 dalil lebih akan tetapi dalil tersebut berasal dari kitab-kitab agama Hindu yang menerangkan dan menjelaskan bahwa tradisi yang ada dimasyarakat hampir semuanya berasal dari agama Hindu.

Ya memang itu realitanya, ketika kita bertanya kepada masyarakat “apakah tingkepan, peringatan 1 sampai 1000 hari kematian seseorang, tabur bunga di makam, tlusupan waktu ada keluarga yang meninggal , ada tuntunannya dalam agama Islam ? ” Sudah bisa dipastikan, mereka akan menjawab TIDAK, bahkan sebagian diam karena bingung mau menjawab apa. Karena memang itu bukan berasal dari agama Islam, melainkan dari agama Hindu. Lalu apakah kita boleh melakukannya ?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah mewanti-wanti kita agar kita tidak terjerumus kedalamnya,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya).

Dan bahaya yang lebih besar lagi adalah kita telah mencampur adukkan antara agama Islam dengan agama Hindu.

Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman : “Dan janganlah kamu campur adukkan YANG HAK dengan YANG BATHIL dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui. (QS.Al-Baqarah : 42)

Apa yang hak? Yang hak adalah ajaran agama Islam sedangkan yang batil adalah semua ritual yang berasal dari agama Hindu.

Imam Ad Darimi telah meriwayatkan dari Jabir radliyallahu ‘anhu bahwasanya Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa satu naskah dari Taurat seraya berkata: “Ya Rasulullah, ini adalah satu naskah dari Taurat.” Kemudian beliau diam. Setelah itu beliau mulai membacanya. Wajah Rasulullah pun berubah. Maka Abu Bakar radliyallahu ‘anhu berkata: “Celaka engkau, apakah engkau tidak melihat wajah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam? Umar menoleh kepada wajah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam seraya berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridho Allah sebagai Rabb (kami), Islam sebagai agama (kami), dan Muhammad sebagai Nabi (kami).” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya Musa ada diantara kalian lalu kalian  mengikutinya dan meninggalkan aku. Niscaya kalian akan sesat dari jalan yang lurus. dan kalau sekiranya ia (Nabi Musa ‘alaihissalam) masih hidup dan ia dapati  kenabianku,  niscaya ia akan mengikutiku.” (Sunan Ad Darimi nomor hadits 44, 1/95)

Saudaraku, sudahkah kita memahami hadits tersebut? Siapa Nabi Musa? Beliau adalah Nabi Utusan Allah, pembawa agama Tauhid. Jika Rasulullah tidak mengijinkan Nabi Musa untuk mencampur adukkan ajarannya dengan agama Islam setelah diutusnya Rasulullah. Dan mengancam kita dengan kesesatan jika kita mengikuti ajaran Nabi Musa, lalu bagaimana jika yang dicampur adukkan adalah agama Hindu, yang membawa ajaran animisme & dinamisme ? Pastilah Beliau akan sangat marah kepada kita, dan jika Rasulullah marah maka Allah pun juga akan murka kepada kita. Allahu Musta’an

Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah r untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka?

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)

Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ? ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.

“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (QS. Asy Syu’ara’: 74).

Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabi Musa, mereka mengatakan:

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (QS. Yunus: 78)

Demikianlah, setiap Rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (QS. Al Baqarah: 170)

Mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.

“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah: 170)

Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah  dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman :

“Dan kalau kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti dugaan-dugaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am 116).

Syaikh As Sa’di menafsirkan ayat tersebut, bahwa kebenaran bukan dilihat dari banyaknya orang yang mengamalkannya, akan tetapi kebenaran adalah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. (At Taisir 270 cet. Maktabah Ar Rusyd).

Mari kita pelajari agama Islam dengan sungguh-sungguh, dengan banyak membaca buku-buku dari para ‘ulama, mendengarkan ceramah-ceramah yang jelas sumbernya. Karena  faktor utama yang menyebabkan kaum muslimin menyimpang dari aqidah yang lurus adalah kebodohan, yakni tidak mengenal / tidak memahami agamanya sendiri.

Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman agama yang benar, dan semoga kita terhindar dari tradisi dan hal-hal yang bisa menjerumuskan kita ke dalam kesyirikan.

Wallahu a’lam bissowaab.

[Adi Abdussalam]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s