SEJENAK BERSAMA DZIKRUL MAUT

Posted: Februari 24, 2011 in aqidah, Buletin Al-'Inayah, Buletin Nida'ul Jannah, Download, ibadah, Kitab, Nasehat, Tazkiyatun nufus
Tag:, , , , ,

“Hai manusia sendirian engkau akan mati,

sendirian engkau akan dibangkitkan

dan sendirian engkau  akan dimintai pertanggungjawaban”

(Hasan Al-Bashri)

“Memang mengingat kematian merupakan hal yang menakutkan kebanyakan orang, sehingga topik pembicaraan tentang kematian sering di hindari oleh manusia sehingga paling sering di lupakan, tapi celakanya manusia tidak bisa menghindar dari kematian itu sendiri.”

Saudaraku, lewat tulisan ini mari sejenak kita luangkan waktu untuk membahas sesuatu yang bisa melembutkan hati kita, yang bisa mendorong diri kita untuk senantiasa bertaubat dan beribadah kepada Allah Ta’ala dengan merenungi apa yang akan di alami manusia setelah kehidupan ini, yakni kematian. Sesuatu yang sangat menakutkan, peristiwa yang sangat menyakitkan. Semoga setelah membaca tulisan ini, Allah membukakan hati kita agar kita menjadi hamba-Nya yang bersiap diri menyiapkan bekal untuk perjalanan setelah kematian nanti dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala sesuatu yang bisa mendatangkan murka-Nya. Aamin.

IA DATANG TIBA-TIBA

Kematian sering kali datang secara tiba-tiba. Berapa banyak orang sehat yang mendadak mendapat serangan jantung kemudian meninggal, atau seseorang yang sehat tiba-tiba ditabrak kendaraan ketika sedang di jalan sampai meninggal, kita juga masih ingat peristiwa tsunami dan gempa bumi di Jogja ini, berapa banyak orang yang mati secara tiba-tiba? Dari anak-anak hingga orang tua. Ya, itulah kematian, ia datang secara tiba-tiba. Ia tidak bisa di undurkan barang sedikit pun dan tidak pula di majukan.

Allah Ta’ala berfirman : “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaf : 19)

Allah Ta’ala juga berfirman : “Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).” (QS. Yunus : 49)

KEMATIAN TIDAK BISA DIHINDARI

Jika telah datang kematian kepada kita, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menolaknya. Meskipun berobat kepada seorang dokter yang sangat ahli, dengan peralatan yang sangat canggih, kita berusaha membuat benteng yang kokoh, atau pergi ketempat yang aman, semua itu tidak akan ada gunanya.

Allah Ta’ala berfirman  : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (QS. An-Nisa’ : 78)

Allah Ta’ala juga berfirman  :  Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab : 16)

SETIAP KEMATIAN MEMILIKI SAKARAT

Mayoritas manusia mengalami sakarat menjelang kematiannya, dan setiap orang akan merasakan dasyatnya sakaratul maut sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam ketika akan meregang nyawa beliau memohon kepada Allah agar diringankan kematian untuknya. Beliau berdo’a : “Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut atasku !” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Sehingga Aisyah berkata, “Aku tak pernah iri melihat orang yang matinya mudah, semenjak menyaksikan beratnya kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.” (Shahih, HR. Tirmidzi)

Ali bin Abi Thalib pernah memberikan motivasi untuk berperang seraya berkata, “Jika kalian tidak terbunuh, kalian juga pasti akan mati. Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh rasa sakit akibat seribu tebasan pedang lebih mampu aku tahan daripada rasa sakit akibat kematian di atas kasur.”

Syadad bin Aus berkata,”Kematian itu ialah kengerian di dunia dan akhirat yang paling menyakitkan bagi seorang mukmin. Ia lebih mengerikan daripada digergaji dengan gergaji, dipotong dengan gunting, dan direbus di dalam periuk. Seandainya mayit itu bisa kembali, lalu mengabarkan tentang kematian kepada penduduk dunia, mereka tidak akan bisa mengambil manfaat kehidupan dan tidak akan menikmati tidur.”

Ketika Amr meregang nyawa, anaknya bertanya tentang rasa kematian. Amr menjawab, “ Demi Allah, seakan tubuhku terbaring di atas ranjang. Ketika bernafas, aku seperti meminim racun. Seakan-akan, seonggok duri ditusukkan dari telapak kakiku hingga menembus ubun-ubun kepalaku.” (Jami’ Al-’Ulum,449).

Itulah rasa ketika nyawa dicabut, sehingga orang yang berada dalam tekanan sakaratul maut ketika ruh sampai di tenggorokan ia tidak bisa lagi berbicara, badannya kaku, betisnya saling bertaut, dan pandangan matanya terbelalak naik mengikuti ruh yang dicabut dari ubun-ubunnya dan pintu taubat pun ditutup. Maka orang-orang kafir atau orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah pun menyesal dengan penyesalan yang tiada gunanya, sehingga mereka pun membenci diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri” (QS.Al-Mu’min : 10)

Allah Ta’ala berfirman : “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS.Al-Qiyaamah : 26-30).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selagi ruhnya belum sampai di tenggorokannya.” (Hasan, HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah).

SIAPKAN BEKAL SEBELUM AJAL DATANG

Saudaraku yang aku cintai karena Allah, sudah saatnya kita berbenah, membenahi iman kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, beribadah kepadanya, dengan mengerjakan sholat lima waktu berjama’ah di masjid, mengeluarkan zakat bagi yang telah wajib zakat, mengerjakan amalan-amalan sunnah seperti dengan memperbanyak sholat sunnah, dll. Jangan kita remehkan amalan meski itu kecil karena itu bisa memperberat timbangan amal sholeh kita dan juga jangan pernah kita anggap remeh dosa kecil terlebih dosa besar. Jika kita terjerumus ke dalam dosa dan maksiat segeralah bertaubat dan berusaha agar tidak mengulanginya lagi.

“Tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus dan tak ada dosa besar jika diiringi istighfar.” (ithaf as-sa’adah al-muttaqin 10/687).

MENYAMBUT KEMATIAN DENGAN SENYUMAN

Apa saja yang harus kita siapkan agar bisa menyambut datanganya kematian dengan senyuman :

1. Dengan beriman kepada Allah dan segera beramal

Yakni dengan menjaga sholat 5 waktu, mengeluarkan zakat, berpuasa ramadhan, dengan berhaji (bagi yang telah mampu)

Allah Ta’ala berfirman : “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS. Al-Baqarah : 197).

Jangan pernah menunda-nunda ibadah, karena kita tidak tahu kapan kematian mendatangi kita, gunakan waktumu sebelum kita kehilangan waktu tersebut, sehingga kita minta dikembalikan di dunia.

Allah Ta’ala berfirman : “hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun :99-100)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah melalui sebuah kuburan dan bertanya, “siapa penghuni kuburan ini ?” Para sahabat berkata, “Si Fulan,” maka beliau bersabda : “Sholat dua rakaat lebih ia sukai dari apa yang tersisa dari dunia kalian.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Haitsami mengatakan hadits ini perawinya tsiqah).

2. Dengan Menjauhi dosa-dosa besar dan kecil

3. Dengan memperbanyak ibadah sunnah

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi : “Dan hamba-Ku masih saja mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah), sehingga Aku mencintainya.”

4. Dengan segera bertaubat dengan sebenar-benarnya

5. Dengan senantiasa mengingat kematian

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (mati)”.

Dengan mengingat mati, hati akan menjadi lembut, air mata akan bercucuran karena takut kepada Allah. Dengan mengingat mati, akan mendorong kita untuk senantiasa beribadah, berusaha menjauhi dosa dan maksiat, karena takut jika kematian datang kita dalam keadaan bermaksiat.

Bagaimana cara mengingat kematian (dzikrul maut) ?

1. Dengan berziarah kubur

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Berziarahlah ke kubur karena hal itu dapat mengingatkan kalian akan akhirat” (Shahih Ibnu Majah, jilid I, hal 113)

Karena tujuan kita berziarah kubur ada 2, yakni mengucapkan salam (mendo’akan si mayit) dan mengingat kematian.

Alangkah jauhnya umat muslimin dari petunjuk Nabi, sehingga tidak sedikit dari kaum muslimin yang terjerumus dalam kesyirikan. Berapa banyak kita jumpai umat muslim menziarahi kuburan wali bahkan kuburan Nabi, kemudian mereka memohon kepada penghuni kubur, mereka juga menjadikan penghuni kubur sebagai perantara untuk berdo’a kepada Allah, berapa banyak kaum muslimin yang melakukan sholat dan membaca Al-Qur’an di kuburan, berzikir di kuburan. Padahal telah jelas banyak dalil-dalil yang mengharamkannya.

Itulah tipu daya syaitan untuk menyesatkan para ahli ibadah yang beribadah tanpa ilmu, syaitan telah membungkus kesyirikan dengan bentuk-bentuk peribadatan yang seolah-olah baik tetapi pada hakikatnya bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

2.  Dengan menjenguk orang sakit

3. Dengan berteman dengan orang yang sholeh sehingga bisa saling mengingatkan kepada    akhirat.

4. Dengan membaca Al-Qur’an terutama surat-surat yang mengabarkan tentang kematian, siksa kubur, kedahsyatan hari kiamat, neraka.

5. Dengan membaca kisah tentang detik- detik kematian  para Nabi, para Sahabat, para Imam, dan orang-orang yang shaleh.

Semoga yang sedikit ini bisa mengingatkan diri penulis dan juga kaum muslimin, agar senantiasa menyiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian yang senantiasa mengintai kita.

Wallahu a’lam bisshawaab. [Adi Abdussalam]

[rujukan : Kitab Al-Anfas al-akhirah|Nafas Terakhir oleh Abdul Malik Al-Qasim, Misteri Tamu Terakhir oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Kholid Abu Sholih, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi]

Diterbitkan di buletin Al-‘Inayah edisi 3

Komentar
  1. Dadang Sukandar mengatakan:

    Izin copy Ustadz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s