<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nida&#039;ul jannah</title>
	<atom:link href="http://nidauljannah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nidauljannah.wordpress.com</link>
	<description>Dengan Qur&#039;an dan Sunnah Kita Luruskan Aqidah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 04:27:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nidauljannah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/71a127ae8b1a808a114afa347945968e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Nida&#039;ul jannah</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nidauljannah.wordpress.com/osd.xml" title="Nida&#039;ul jannah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nidauljannah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JALAN SELAMAT ADALAH DENGAN BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH MENURUT PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/jalan-selamat-adalah-dengan-berpegang-teguh-kepada-al-qur%e2%80%99an-dan-as-sunnah-menurut-pemahaman-salafush-shalih/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/jalan-selamat-adalah-dengan-berpegang-teguh-kepada-al-qur%e2%80%99an-dan-as-sunnah-menurut-pemahaman-salafush-shalih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 23:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[edisi 15]]></category>
		<category><![CDATA[jalan selamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam: 153) Pada buletin edisi ke 14 kemarin, kita telah membahas secara singkat cara memahami islam yang benar, yakni berpedoman dengan al-qur’an dan as-sunnah menurut pemahaman salafush [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=956&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><em><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/choices-copy2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-957" title="" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/choices-copy2.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”</em></strong> (QS. Al-An’aam: 153)</p>
<p>Pada buletin edisi ke 14 kemarin, kita telah membahas secara singkat cara memahami islam yang benar, yakni berpedoman dengan<strong> </strong>al-qur’an dan as-sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Dan pada buletin kali ini kami akan melanjutkan pembahasan lanjutan edisi minggu lalu.</p>
<p><strong>JALAN SELAMAT HANYA ADA SATU (yakni dengan mengikuti jejak para salafush shalih)</strong></p>
<p>Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah,</p>
<p>Jalan keselamatan hanya akan ada satu, yaitu jalan yang telah dilalui generasi terbaik dari umat ini, mereka adalah generasi yang hidup sejaman dengan Rasulullah yakni para sahabat, kemudian generasi setelahnya yakni para tabi’in, kemudian generasi setelahnya yakni para tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda<em> :</em></p>
<p><strong><em>“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in), kemudian orang yang mengikuti mereka (para tabi’ut tabi’in).”</em></strong> (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhari, Muslim)</p>
<p>Mereka adalah 3 generasi utama yang telah mendapat petunjuk dan ridha Allah, serta mereka telah mendapat jaminan surga. Barangsiapa yang mengikuti jejaknya, maka sesungguhnya dia telah menempuh jalan keselamatan.</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah pernah membuat garis (lurus) dengan tangannya, lalu beliau bersabda, <strong>“Inilah jalanku yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, </strong>kemudian beliau bersabda,’ <strong>Ini adalah jalan-jalan yang sesat, tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.”</strong> (Hadits shahih, riwayat Ahmad dan Nasa’i)</p>
<p>Hadits diatas menunjukkan bahwa umat Islam ini akan dihadapkan dengan banyak sekali jalan, ada jalan yang melenceng ke kanan dan ada yang ke kiri, ada pula jalan yang miring akan tetapi seakan-akan terlihat lurus. Dan diantara banyak jalan yang miring itu ada 1 jalan yang lurus, bagi orang yang ingin melewati jalan tersebut harus dengan ilmu, harus dengan kehati-hatian. Akan banyak sekali rintangan yang berusaha menghambat jalan tersebut. Jalan yang lurus Itulah jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah dan para salafush shalih.</p>
<p>Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata, <strong><em>“Barangsiapa diantara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Sahabat Rasulullah</em></strong><em> </em>r<em>. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya, maka <strong>kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah jejak langkahnya, karena mereka berada di atas jalan yang lurus.”</strong> </em>(Atsar shahih, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Naar, dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/947 no.1810)</p>
<p>Imam Malik bin Anas (gurunya imam Asy-Syafi’i) berkata, <strong><em>“Generasi akhir umat ini tidak bisa menjadi baik kecuali dengan mengikuti generasi pertama mereka (para sahabat).”</em></strong><em> </em>(Sya-Syifa, Qadhi ’Iyadh, II:88)</p>
<p>Imam Ahmad (murid imam Asy-Syafi’i) berkata, <strong><em>“Pondasi sunnah ,menurut kami adalah berpegang teguh kepada para sahabat dan meneladani mereka.”</em></strong> (dalam Al-Lalika’i, hal. 317)<span id="more-956"></span></p>
<p>Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah,</p>
<p>Terkadang diantara kita ada yang berpendapat <em>“Ya boleh-boleh saja orang berpengangan dengan pemahaman apa saja, yang penting merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah” </em> terkadang ada juga yang berkata <em>“Jalan apa saja boleh ditempuh, asal tujuan kita sama, yakni mencari ridha Allah”</em></p>
<p>Saudaraku, Seseorang yang telah merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah belum tentu mengikuti pemahaman (cara beribadahnya) para sahabat. Bukankah telah kita saksikan, banyak sekali kelompok-kelompok yang mengusung panji Islam, tetapi pada hakikatnya dia menyimpang? Lihat saja orang-orang yang berpemahaman khawarij. Dari pakaiannya sudah sesuai dengan sunnah, memanjangkan jenggot, tidak isbal (tidak memanjangkan celana di bawah mata kaki), yang wanitanya juga berjilbab sesuai syar’i, bahkan ada yang memakai cadar. <em>Subhanallah</em>, apa yang mereka lakukan itu adalah sunnah yang mulia. Akan tetapi mereka mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah tidak merujuk sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Mereka mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman mereka sendiri atau guru-guru mereka. Sehingga dengan pemahamannya yang menyimpang itu, mereka mengkafirkan saudara muslim lainnya tanpa ada bukti, menghalalkan darahnya, sehingga tidak sedikit diantara mereka yang terjerumus ke dalam <em>irhab</em> (teror), melakukan pengeboman di sana-sini (lihat  edisi 11).</p>
<p>Lihatlah, itu adalah contoh orang yang memahami Al-Qur’an dan Sunnah (hadits) tetapi tidak merujuk sesuai pemahaman salafush shalih.</p>
<p>Orang-orang khawarij dijaman Nabi dulu, mereka adalah ahli ibadah, bahkan ibadah para Sahabat Nabi jika dibanding dengan ibadahnya orang-orang khawarij tidak ada apa-apanya. Akan tetapi mereka (orang-orang khawarij) beribadah tanpa ilmu.</p>
<p>Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang khawarij, Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p><strong><em>&#8220;Akan datang suatu kaum pada kalian yang kalian akan memandang rendah shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, amal-amal kalian dibanding dengan amal-amal mereka. </em></strong><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Mereka membaca Al Qur&#8217;an (tapi) tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya anak panah dari buruan.&#8221;</span></em></strong>(HR. Bukhari nomor 5058 dan Muslim nomor 147/1064)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan bahwa mereka banyak membaca Al Qur&#8217;an tetapi beliau sendiri mencela mereka, mengapa demikian? Karena mereka tidak paham tentang Al Qur&#8217;an. Mereka mencoba memahami sendiri Al Qur&#8217;an dengan akal-akal mereka. Mereka enggan belajar kepada para shahabat.</p>
<p>Maka dari itu Ibnu Abbas berkata : <em>&#8220;Aku datang dari sisi kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Nabi. </em><strong><em>Al Qur&#8217;an turun kepada mereka (para sahabat). Dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya dari  (pada) kalian</em></strong><em>.&#8221;</em><em></em></p>
<p>Maka hendaknya seseorang itu merasa takut kepada Allah, jangan menafsirkan ayat seenaknya sendiri tanpa di dasari keterangan dari para ulama Ahli Tafsir yang merujuk pada pemahaman salafush shalih.</p>
<p><strong>HATI-HATI DENGAN TAKLID (mengekor/ikut-ikutan)</strong></p>
<p>Salah satu sebab terjadinya penyimpangan adalah taklid buta, yaitu sekedar ikut-ikutan tanpa mengetahui dalilnya.</p>
<p>Alhamdulillah Allah telah memudahkan kita dalam beragama, dengan munculnya para Imam madzhab, ada banyak Imam madzhab, tetapi yang paling banyak digunakan kaum muslimin di dunia 4 madzhab, yakni madzhab Hanifah (Imam Abu Hanifah), madzhab Maliki (Imam Malik), madzhab Syafi’I (Imam Asy-Syafi’i), dan madzhab Hanbali (Imam Ahmad bin Hanbal). Mereka adalah imam-imam Ahlussunnah dan akidah mereka lurus.</p>
<p>Permasalahan ditengah kita, terkadang ada yang yang merasa bahwa madzhabnya lah yang paling benar, sedang yang lain tidak sesuai. Bahkan jika perkataan Imam madzhab ada yang bertentangan dengan Al Qur&#8217;an maupun hadits, kita tetap mengikutinya.</p>
<p>Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah,</p>
<p>Itulah yang namanya taklid, ikut-ikutan tetapi tidak melihat apakah yang diikuti itu bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan hadits atau tidak.</p>
<p>Para Imam madzhab adalah orang yang telah banyak berjasa bagi umat Islam ini, ilmu mereka luas, dan akidah mereka lurus. Akan tetapi mereka juga manusia biasa, yang kadang benar, dan kadang juga bisa salah. Maka para Imam madzhab pun telah berkata di dalam kitab-kitab mereka, jika ada pendapat mereka yang bertenangan dengan Al Qur&#8217;an maupun hadits, maka <strong>wajib ditinggalkan.</strong></p>
<p><strong>Imam Abu Hanifah berkata</strong>, <em>&#8220;Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku&#8221;.</em><em> </em>(Al-Fulani di dalam Al-lqazh, hal. 50)</p>
<p><strong>Imam Malik berkata, </strong><em>&#8220;Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah&#8221;.</em> (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami&#8217;, 2/32)<strong></strong></p>
<p><strong>Imam Asy-Syafi’I berkata, </strong><em>”Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.&#8221; </em>(Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)<strong></strong></p>
<p><strong>Imam Ahmad bin Hanbal</strong><strong>  berkata,</strong> <em>&#8220;Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi&#8217;i, Auza&#8217;i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.&#8221;</em> (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I&#8217;lam, 2/302)</p>
<p>Saudaraku, mereka para Imam madzhab telah memberi peringatan kepada kita, agar kita jangan taklid buta kepada mereka. Dan itu pula yang diajarkan oleh para ulama, agar kita berjalan mengikuti jalannya para salafush shalih. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan <em>“Ini bukan madzhabku”,</em> <em>“ini adalah madzhab mu”</em> ingat saudaraku, kita boleh mengambil pendapat imam yang mana saja jika memang pendapat itu tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an maupun hadits, akan tetapi jika pendapat mereka ada yang bertentangan dengan Al Qur&#8217;an maupun hadits  maka sekali lagi wajib bagi kita untuk meninggalkannya.</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>, Jika kita mendapat suatu amalan/ilmu <strong>tentang agama</strong>, maka wajib bagi kita untuk mengembalikannya kepada Rasulullah, maksudnya di teliti kembali, apakah pernah dikerjakan Rasulullah dan para sahabatnya atau tidak, jika ia, maka silakan diamalkan, tetapi jika tidak maka kewajiban kita untuk meninggalkannya</p>
<p>Semoga pembahasan kali ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa mencurahkan nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat sunnah kepada kita sekalian. <em>Aamin</em></p>
<p><em>wallahu ta’ala a’lam</em></p>
<p><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 15</strong><strong></strong></p>
<p><em>[rujukan: Wasiat Perpisahan Rasulullah, oleh Ust.Yazid bin Abdul Qadir Jawas]</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/956/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/956/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=956&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/jalan-selamat-adalah-dengan-berpegang-teguh-kepada-al-qur%e2%80%99an-dan-as-sunnah-menurut-pemahaman-salafush-shalih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/choices-copy2.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>CARA MEMAHAMI ISLAM YANG BENAR</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/cara-memahami-islam-yang-benar/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/cara-memahami-islam-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 23:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[73 golongan]]></category>
		<category><![CDATA[edisi 14]]></category>
		<category><![CDATA[jalan selamat]]></category>
		<category><![CDATA[jalan yang lurus]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Sholih]]></category>
		<category><![CDATA[shirotol mustaqim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[Umat Islam kini telah terpecah belah, berkelompok-kelompok, satu sama lain saling membangga-banggakan golongannya. Ketika satu per satu golongan ditanya, “apa pengangan/rujukan kalian?” pasti mereka menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi”. Jika kita melihat realita yang ada, contoh seperti orang-orang syiah, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=953&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/jalan-lurus-copy.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-954" title="" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/jalan-lurus-copy.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Umat Islam kini telah terpecah belah, berkelompok-kelompok, satu sama lain saling membangga-banggakan golongannya. Ketika satu per satu golongan ditanya, “apa pengangan/rujukan kalian?” pasti mereka menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi”.</p>
<p>Jika kita melihat realita yang ada, contoh seperti orang-orang syiah, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah tersesat jauh, bahkan ada sebagian ulama  yang mengkafirkannya ?</p>
<p>Contoh yang lain missal Ahmadiyah, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah menyimpang dan tersesat jauh ?</p>
<p>Begitu pula dengan orang-orang yang berpemahaman khawarij, yang dengan seenaknya mengkafirkan saudara muslim yang lain tanpa bukti, bahkan melakukan tindakan teror dengan pengeboman di sana-sini, ketika mereka ditanya tentang pengangan/rujukan mereka, pasti mereka akan menjawab “rujukan kami Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi”. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah menyimpang dan tersesat jauh ?</p>
<p>Mungkin akan timbul dibenak kita, kenapa mereka bisa menyimpang dari ajaran Islam ini? padahal rujukan mereka sama yakni Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi</p>
<p>Bukankah ada sebuah hadits dari Rasulullah, Beliau bersabda, <strong><em>&#8220;Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).&#8221;</em></strong> (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami&#8217;)</p>
<p><strong>lalu dimana salahnya?,</strong> sudah berpegang teguh dengan Al-Qur&#8217;an dan Hadits(sunnah) kok masih dikatakan tersesat dan menyimpang oleh para ulama.</p>
<p>Ini yang akan kita bahas pada buletin kali ini, bagaimana kita bisa memahami Islam dengan benar, agar kita tidak menyimpang dari jalan yang lurus.<span id="more-953"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Terpecahnya Islam</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah mengabarkan kepada kita tentang terpecahnya umat Islam ini, beliau bersabda,</p>
<p><strong><em>&#8220;Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tem-patnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-jama&#8217;ah.&#8221;</em></strong><em> </em>(HR. Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggolongkannya hadits <em>hasan</em>)</p>
<p>Dalam suatu riwayat, <em><strong>“(Al-Jama’ah adalah) siapa yang berada di atas seperti apa yang saya (yakni Rasulullah) dan para shahabatku berada di atasnya”.</strong></em><em> </em>(Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya)</p>
<p>Arti terpecah menjadi 73 golongan bukan jumlahnya 73, akan tetapi bilangan 73 mengisyaratkan akan terpecah menjadi banyak golongan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ash Shan’ani <em>Rahimahullah</em><em></em></p>
<p>Hadits di atas juga mengabarkan bahwa yang selamat dari api neraka hanya 1 golongan, sedangkan yang lainnya akan mampir dulu ke neraka, dan ketika Rasulullah ditanya oleh para sahabatnya tentang siapa yang 1 golongan selamat itu, Rasulullah pun bersabda “<em>al-jama&#8217;ah”, </em>dalam riwayat lain<em> <strong>“yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.&#8221;</strong></em><strong><em> </em></strong>(HR. At-Tirmidzi, dan di-<em>hasan</em>-kan oleh Al-Albani dalam <em>Shahihul Jami&#8217; </em>5219)</p>
<p>Sekarang terjawab pertanyan diatas, kenapa banyak kelompok yang menyimpang, padahal rujukan dan pedoman mereka sama yakni Al-Qur’an dan Hadits.</p>
<p>Jawabnya karena mereka tidak mengamalkan Al-Qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat, mereka memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman mereka sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi penyimpangan dalam cara mereka memahami serta mengamalkan Islam.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Memahami Islam yang Benar</strong></span></p>
<p>Mengapa kita harus beragama dan beribadah sesuai dengan pemahaman <em>(manhaj)</em> para sahabat ?</p>
<p>Karena Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah memberi wasiat kepada kita (yakni umatnya) untuk berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat. Beliau berwasiat dengan sabdanya :</p>
<p><em>Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta&#8217;at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, <strong>berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa&#8217;ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk.</strong> Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. </em>(<em>Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah, sedang setiap bid&#8217;ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).&#8221; </em>(HR. Nasa&#8217;i dan At-Tirmi-dzi, ia berkata hadits hasan shahih)</p>
<p>siapa “<em>khulafa&#8217;ur rasyidin” </em>itu?, mereka adalah Abu bakar, Umar, Ustman, dan Ali</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga telah bersabda<em> :</em></p>
<p><strong><em>“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in), kemudian orang yang mengikuti mereka (para tabi’tabi’in).”</em></strong> (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman: <strong><em>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”</em></strong> (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p>Dalil-dalil di atas adalah bukti bahwa jika kita ingin selamat maka kita harus berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits <strong>sesuai dengan pemahaman para sahabat.</strong></p>
<p>Mereka para sahabat dan 2 geberasi setelahnya adalah sebaik-baik umat, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, kemudian Allah telah menjanjikan surga kepada mereka.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Wajibnya Berpegang Teguh Pada (Manhaj) 3 Generasi Utama (Salafus Sholih)</strong></span></p>
<p>Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah, bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman: <em>“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”</em> (QS. Ar Ruum: 31-32)</p>
<p>Hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya.</p>
<p>Sehingga golongan yang senantiasa mengikuti jalan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya akan dianggap asing dan remeh ditengah-tengah umat Islam. Akan banyak golongan-golongan lain yang menentangnya. Akan tetapi ini adalah sunnatullah yang telah ditetapkan Allah, bahwa golongan yang selamat ini adalah yang nantinya dianggap asing dan aneh di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <strong><em>“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan (dianggap) asing.”</em></strong> (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)</p>
<p>Dia asing sebagai orang yang berilmu (agama) ditengah orang-orang jahil (tidak mempunyai ilmu agama), senantiasa menghidupkan dan mengajarkan sunnah di tengah ahli bid’ah,  penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>  telah menasehati kita agar kita berhati-hati dalam meniti kehidupan ini, khususnya dalam hal beragama, karena banyak jalan-jalan yang menyimpang yang akan langkah kita dari jalan yang lurus.</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, <strong><em>&#8216;Ini jalan Allah yang lurus.&#8217; Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, </em></strong>kemudian bersabda, <strong><em>&#8216;Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” </em></strong>(Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa&#8217;i).</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Bagaimana cara kita memahami al-qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat.</strong></span></p>
<p>Cara kita memahami Al-qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat adalah kita tidak boleh mendahului mereka dalam beribadah, dalam menafsirkan suatu ayat ataupun hadits. Kita tidak beribadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan juga para sahabatnya, karena mereka adalah sebaik-baik umat, tidak ada suatu amal ibadah dan suatu kebaikan yang mereka lewatkan, kecuali mereka akan berlomba-lomba mengamalkannya.</p>
<p>Nah, jika kita beribadah kok Nabi dan juga para sahabatnya tidak pernah melakukannya, maka pada hakikatnya itu bukan suatu kebaikan, meski kita manusia menganggapnya baik.</p>
<p>Sehingga para ulama membuat suatu kaidah dalam beragama, yang kaidah ini disampaikan terus kepada kaum muslimin. Kaidah itu berbunyi <strong>“</strong><em><strong>Laukana</strong></em><strong><em> Khairan Lasabaquunaa Ilaihi”</em></strong> yang artinya “Jika suatu perbuatan itu baik, niscaya mereka (yakni para sahabat) akan mendahului kita untuk mengamalkannya”.</p>
<p>Jadi kesimpulannya, janganlah kita beribadah, kecuali jika ibadah itu pernah dicontohkan oleh Nabi dan juga para sahabatnya. <em></em></p>
<p>Semoga apa yang kami sampaikan ini bisa menambah ilmu kita dan mendorong kita untuk mau mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, karena tidak ada bekal yang lebih baik yang akan kita bawa untuk menghadap Allah kecuali taqwa.   <em>Wallahu&#8217;alam</em></p>
<p align="right"><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p align="right"><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 14</strong><strong></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/953/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=953&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/05/15/cara-memahami-islam-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/05/jalan-lurus-copy.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TEROR KEMBALI TERJADI</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/16/teror-kembali-terjadi/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/16/teror-kembali-terjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 03:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[irhabi]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontakan]]></category>
		<category><![CDATA[syahid]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[TEROR KEMBALI TERJADI       Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Jum’at, Negara kita kembali digoncangkan oleh sebuah ledakan bom di sebuah masjid yang sedang melaksanakan sholat jum’at . Sehingga kondisi yang tadinya sudah kondusif kembali menjadi gempar. Siapa pelakunya ? Kita tidak menuduh kelompok/golongan tertentu, akan tetapi jika yang melakukannya adalah orang yang mengaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=945&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/bom-teroris1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-946" title="" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/bom-teroris1.jpg?w=150&#038;h=145" alt="" width="150" height="145" /></a></p>
<p align="center"><strong>TEROR KEMBALI TERJADI</strong></p>
<p>      Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari Jum’at, Negara kita kembali digoncangkan oleh sebuah ledakan bom di sebuah masjid yang sedang melaksanakan sholat jum’at . Sehingga kondisi yang tadinya sudah kondusif kembali menjadi gempar.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"> <strong>Siapa pelakunya ?</strong></span></p>
<p>Kita tidak menuduh kelompok/golongan tertentu, akan tetapi jika yang melakukannya adalah orang yang mengaku Islam, bahkan mengatas namakan jihad, lantas apa tujuannya? dan bagaimana Syari’at Islam ini menilai tindakan tersebut.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"> <strong>Teror (Irhab)</strong></span></p>
<p><strong><em>      </em></strong>Teror yakni menakut-nakuti, mengancam, menumpahkan darah, dll, yang mana seluruh ulama-ulama kaum muslimin sepakat bahwa tindakan itu adalah <strong>HARAM </strong>dan juga menimbulkan kerusakan.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman :<strong><em> </em>&#8220;Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.&#8221;</strong> [Al-A'raf : 56]</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>      Hukum Mengkafirkan Seorang Muslim Tanpa Bukti</strong></span></p>
<p><strong>      </strong>Seseorang tidak boleh memvonis kafir seorang muslim jika tidak memiliki bukti yang sangat kuat, dan itupun harus ulama yang memvonisnya, bukan setiap individu setiap muslim, karena jika orang yang dikafirkan itu ternyata tidak kafir, maka kata-kata kafir tersebut akan kembali kepada si penuduh.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, &#8220;<strong>Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.&#8221;</strong> (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> juga bersabda, <strong>&#8220;Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.”</strong> (Shahih, HR. Muslim no. 61)<span id="more-945"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"> <strong>Hukum Menakut-Nakuti Seorang Muslim</strong></span></p>
<p>Pernah ketika dalam suatu perjalanan, ada salah seorang sahabat yang tidur, kemudian sebagian sahabat yang diam-diam mengambil anak panahnya, kemudian mengambilnya. Lalu sahabat yang tertidur tadi terbangun dan terkejut karena anak panahnya ada yang mengambil. Ketika melihat sahabatnya yang terkejut, sahabat yang lain pun tertawa, kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam </em>bersabda : <strong>“Apa yang membuat kalian tertawa ?”</strong> mereka berkata : <strong>Tidak, kami hanya (bercanda dengan) mengambil anak panah orang ini, lalu ia terkejut.</strong> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam </em>bersabda : <strong>“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain</strong>” (HR. Ahmad)</p>
<p><strong>      </strong>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda,<strong> <em>“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti-nakuti muslim lainnya.”</em></strong><em> (</em>HR. Ahmad dan Abu Dawud)<strong></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <strong><em>“</em><em>Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.”</em></strong><em> </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda<strong>, “Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami tidaklah dia dari golongan kami..”</strong> (HR. Bukhari)</p>
<p>Hadits-hadits diatas menjelaskan, bahwa tidak boleh seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain. Jika menakut-nakuti saja tidak boleh meskipun hanya sekedar bersenda gurau, lalu bagaimana jika sampai menyakiti, bahkan sampai membunuh kaum muslimin ?</p>
<p>Suatu ketika ada seorang laki-laki lewat di depan masjid dengan membawa beberapa anak panah dengan menampakkan mata panah-panah tersebut. Maka orang tersebut disuruh untuk memegang mata panahnya agar tidak melukai seorang muslim. (HR. Muslim)</p>
<p>Betapa indahnya agama Islam ini, sehingga sangat menjaga keselamatan seseorang, sehingga jika ada orang yang membawa sesuatu yang tajam yang nampak oleh orang banyak, segera diperintahkan untuk menutupnya (menyimpannya) agar jangan sampai melukai orang lain.</p>
<p>Jika hal yang sekecil itu saja tidak diperbolehkan dalam agama Islam, bagaimana hukumnya jika bom yang sedahsyat itu diledakkan ditengah-tengah orang banyak, bahkan kepada kaum muslimin.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hukum Membunuh Orang, Baik Orang Muslim Atau Kafir</strong></span></p>
<p><strong>      </strong>Orang kafir terbagi menjadi empat. <strong>Tiga diantaranya haram untuk di bunuh/diperangi </strong>yakni</p>
<ol>
<li>Kafir dzimmi (yakni orang kafir yang berada di bawah perlindungan dan penjagaan kaum Muslimin dengan sebab upeti (jiz-yah) yang mereka bayarkan)</li>
</ol>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya bau surga tercium dari perjalanan 40 tahun.”</strong> (HR. An Nasa’I, dishahihkan Al-Albani)</p>
<ol>
<li>Kafir mu’ahad (yakni orang kafir yang memiliki perjanjian damai yang disepakati)</li>
</ol>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>“Ingatlah, siapa yang mendzolomi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebani di atas kemampuannya / mengambil sesuatu darinya tanpa keridhoan dirinya, maka saya (yakni Rasulullah) adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.” </strong>(HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (445))</p>
<ol>
<li>Kafir musta’man (yakni orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari seluruh/sebagian kaum muslimin)</li>
</ol>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman : <strong>“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” </strong>(QS. At Taubah : 6)</p>
<p>Sedangkan orang kafir yang 1 lagi adalah kafir <em>harbi, </em>yakni orang kafir yang terang-terangan memerangi/berperang dengan umat muslim (seperti orang-orang yahudi yang memborbardir saudara kita di Palestina), golongan kafir ini boleh di perangi.</p>
<p>Orang-orang non muslim yang tinggal di negara kita dan yang ada di sekitar lingkungan kita, mereka itu termasuk kedalam 3 golongan orang yang haram untuk diganggu apalagi di tumpahkan darahnya.</p>
<p>Jika orang kafir di jaga dan dilindungi hak-haknya serta di haramkan untuk diperangi apalagi dibunuh, bagaimana jika yang dibunuh orang Islam?</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman : <strong>“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”</strong> [An-Nisa : 93]</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Membunuh Seorang Mukmin, Tidak Akan Diterima Ibadahnya</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>“Barangsiapa membunuh seorang mukmin, lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah, juga amalan wajibnya.”</strong> (HR. Abu Dawud, Shahih lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2450)</p>
<p><strong>Azab Bagi Orang Yang Bunuh Diri, Sekalipun Mengatas Namakan Jihad (Bom Syahid)</strong></p>
<p><strong>      </strong>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda<strong>       , “barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka kelak ia akan disiksa dengan sesuatu tersebut pada hari kiamat.” </strong>(HR. Bukhari dan Muslim)<strong></strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” </strong>(Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Apakah Pelaku Bom bunuh Diri Jika Dia Mati, Apakah Dia Mati Syahid atau Tidak ?</strong></span></p>
<p>Bahkan kita tidak pantas mengatakan dia mati syahid atau tidak, akan tetapi kita katakan, apakah dia diampuni oleh Allah atau tidak.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>&#8220;Semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan kafir atau seorang laki-laki yang membunuh mukmin lainnya dengan sengaja.&#8221; </strong>(HR. Ahmad no.16302, dengan sanad baik)</p>
<p>Itu jika pelaku peledakan bom tidak bertaubat sebelum mati, akan tetapi jika dia bertaubat sebelum mati, maka Allah akan mengampuninya, akan tetapi dosa dia terhadap manusia tetap akan diadili di hari kiamat.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>      Apakah Jika Pelaku Peledakkan Bertaubat, Taubatnya Akan Diterima ?</strong></span></p>
<p><strong>      </strong>Seorang pelaku pembunuh/pelaku teror, jika ia bertaubat kepada Allah pasti Allah akan mengampuni, akan tetapi dosa dia terhadap manusia (orang yang dibunuhnya) tetap akan di adili pada hari kiamat.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda, <strong>&#8220;Orang yang terbunuh dan si pembunuh akan di hadapkan pada hari Kiamat kelak, sementara yang terbunuh akan membawa kepala dengan tangannya, sedang dari lehernya mengalirkan darah, lalu ia berkata; &#8220;Ya Rabb, orang ini telah membunuhku, &#8221; sampai ia didekatkan ke &#8216;arsy, &#8221; </strong>Lalu orang-orang menyebutkan kepada Ibnu Abbas, <strong>(apakah si pembunuh) mendapat ampunan?, </strong>Maka Ibnu Abbas membacakan ayat;<strong> Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam. (QS An-Nisa`: 93), <span style="text-decoration:underline;">karena itu bagaimana mungkin dia mendapatkan ampunan?.</span>&#8220;</strong> (HR. Tirmidzi, Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan).</p>
<p>Sebagaimana sabda Rasulullah yang lain. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda,    <strong>&#8220;Allah memberikan pengampunan kepada orang yang mati syahid, yaitu segala sesuatu yang menjadi dosanya, melainkan hutang.&#8221;</strong> (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan<strong>: &#8220;Mati dalam peperangan fisabilillah itu dapat menutupi segala macam dosa, melainkan hutang.&#8221;</strong></p>
<p><strong>      </strong>Hadits-hadits diatas adalah bukti bahwa dosa itu bukan hanya kepada Allah saja, akan tetapi juga ada dosa kepada manusia, sehingga orang yang masih mempunyai masalah/tanggungan terhadap manusia jika dia belum menyelesaikan urusannya di dunia, pasti Allah akan mengadilinya di Akhirat.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Apakah Boleh Kita Mengatakan Seorang Itu Mati Syahid ?</strong></span></p>
<p>Tidak boleh kita mengatakan kepada seseorang, bahwa dia mati syahid, apakah dia seorang yang benar-benar berjihad di medan peperangan, apalagi orang yang melakukan teror.</p>
<p>Karena memutuskan apakah dia mati syahid atau tidak, itu adalah haknya Allah, karena jika kita mengatakan si fulan mati syahid, berati kita telah memastikan bahwa dia masuk surga. padahal yang menentukan seseorang itu masuk surga atau tidak, itu hanya haknya Allah, semua orang tidak berhak memutuskannya, kecuali jika yang mengabarkan seorang itu syahid adalah Nabi, karena Nabi berbicara bedasarkan wahyu dari Allah.</p>
<p>Sehingga Imam Bukhari membuat BAB <strong>“Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid”.</strong> Beliau berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. <strong>&#8220;Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si fulan syahid, dan si fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid&#8221; </strong>(HR.Riwayat Ahmad, sanad hasan)</p>
<p><strong>      </strong>Alangkah jahilnya seseorang yang berani mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan mengatakan <em>“si fulan syahid….si fulan syahid”</em> atau juga sering kita dengar perkatakan <em>“syahid fulan”</em></p>
<p><em>      </em>Kembali kami mengajak kepada kaum muslimin semuanya untuk senantiasa mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, serta mengamalkannya, karena dengan itu kita bisa memilih mana ajaran-ajaran yang sesuai syari’at dan mana ajaran-ajaran yang menyimpang dari syari’at.</p>
<p>Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya dan semoga Allah meneguhkan kita diatas tauhid, dan menunjuki kita jalan yang lurus. <em>Amiin</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>[ dikutip dari kajian ilmiah Ust. Abu Zubeir Al-Hawaary, LC ]</em></p>
<div id="page">
<div id="container">
<div id="content">
<div>
<div id="post-940">
<div>
<p style="text-align:left;"><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><span class="Apple-style-span" style="font-family:'Times New Roman';line-height:normal;font-size:medium;"></span></p>
<div id="page" style="display:inline!important;">
<div id="container" style="display:inline!important;">
<div id="content" style="display:inline!important;">
<div style="display:inline!important;">
<div id="post-940" style="display:inline!important;">
<div style="display:inline!important;">
<p style="text-align:left;display:inline!important;"><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 11</strong></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:'Times New Roman';line-height:normal;font-size:medium;"></span></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/945/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=945&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/16/teror-kembali-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/bom-teroris1.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA BELAJAR AGAMA</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/pentingnya-belajar-agama/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/pentingnya-belajar-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 14:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[tahu]]></category>
		<category><![CDATA[tidak tahu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[Kita sekarang berada di akhir zaman, yang mana berbagai macam dosa, maksiat dan fitnah merajalela, sehingga bagi orang yang rapuh aqidahnya akan sangat mudah terbawa arus tersebut. Arus yang akan membawa seorang muslim menuju jurang kehancuran. Seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat manakala ia tidak/enggan untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=940&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-941" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a>Kita sekarang berada di akhir zaman, yang mana berbagai macam dosa, maksiat dan fitnah merajalela, sehingga bagi orang yang rapuh aqidahnya akan sangat mudah terbawa arus tersebut. Arus yang akan membawa seorang muslim menuju jurang kehancuran.</p>
<p>Seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat manakala ia tidak/enggan untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu agama sangatlah penting bagi seorang muslim, sehingga tidak mengherankan jika Imam Bukhari menulis di dalam kitabnya <em>Shahih Bukhari</em> beliau membuat bab <em>“Ilmu wajib dituntut sebelum Beramal</em>”.</p>
<p>Ya, itu yang sekarang banyak ditinggalkan kaum muslimin, banyak dari kaum muslimin yang mencukupkan diri dengan apa yang telah dipelajari dari orang tuanya dahulu, dari sekolahannya dahulu tanpa mau mempelajarinya lagi dengan membaca buku-buku para ulama, karena bisa jadi apa yang disampaikan orang tua kita dahulu belum sesuai dengan syari’at.</p>
<p><strong>Tidak mau belajar agama karena takut dosa</strong></p>
<p><strong> </strong>Sering kita menyaksikan, ketika ada seseorang yang diajak untuk belajar agama dia berkata <strong>“Nggak, takut kalau tahu itu dosa”, “Nggak, nanti malah repot kalau tahu itu dosa” </strong>dan perkataan lain yang muncul dari lisan kaum muslimin yang enggan belajar agama.</p>
<p>Betapa bodohnya perkataan-perkataan itu. Apakah kita fikir jika kita enggan mempelajari agama trus kita tidak berdosa? salah besar jika kita berfikiran seperti itu.</p>
<p>Saudaraku yang semoga di muliakan Allah,</p>
<p>Bedakan perkataan <strong>“Tidak Tahu </strong>dengan<strong> Tidak Mau Tahu”</strong>, Apa bedanya ?<span id="more-940"></span></p>
<p>Seseorang bisa dikatakan tidak tahu jika ia belum pernah mempelajarinya dengan sebab, mungkin ilmu belum sampai kepadanya, atau disekitarnya belum ada yang mendakwahinya. Berbeda dengan perkataan Tidak Mau Tahu, yakni ia sudah tahu ilmunya, sudah sangat banyak fasilitasnya tetapi ia sendiri enggan mempelajarinya.</p>
<p>Saudaraku,,,, baca dan renungkan hadits dibawah ini, hadits yang menunjukkan akibat orang yang enggan mempelajari agama karena takut mengetahui dosa, akibat orang yang enggan belajar agama padahal ada kesempatan untuk mempelajarinya.</p>
<p>Rosulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> menceritakan ketika seseorang meninggal, di dalam kubur mayat itu akan ditanya oleh malaikat, <strong>“Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?” Adapun orang mukmin akan menjawab, “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad  <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em>.” Sedangkan orang Fajir <em>(orang yang melalaikan agamanya)</em> akan menjawab, “Ah,,ah,, Aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku ikut mengatakannya.” lalu dikatakan kepadanya. “ENGKAU TIDAK TAHU DAN TIDAK MENGIKUTI ORANG YANG TAHU </strong>(dalam riwayat yang lain <strong>“ENGKAU TIDAK TAHU DAN TIDAK BERUSAHA MENCARI TAHU (PETUNJUK)”</strong>)<strong>, (lalu) Ia dipukul dengan palu besi sehingga menjerit dengan jeritan, yang terdengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia </strong>(dalam riwayat yang lain <strong>“kecuali jin dan manusia”</strong>)<strong>. Seandainya manusia mendengarnya niscaya tersungkur pingsan.” </strong>(Lihat “Fathul bari”III/232 dan “Sunan Abu Dawud” IV/238).</p>
<p>Sudahkan kita merenungi hadits diatas? itulah akibat orang yang enggan belajar agama, dia dihardik oleh malaikat ketika tidak bisa menjawab pertanyaan kubur, dia mungkin bisa mengelak di dunia, akan tetapi keadilan benar-benar akan tegak ketika kita berada di akhirat.</p>
<p><strong>Kuatkan Akidah dengan belajar</strong></p>
<p>Setiap muslim wajib mempelajari ilmu agamanya, terlebih mempelajari tentang ilmu akidah. Rosulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam </em>membekali para sahabatnya ilmu akidah selama 13 tahun, bahkan ketika beliau <em>shalallahu ‘alaihi wassalam </em>akan wafat, beliau masih sempat membekali para sahabatnya dengan akidah. Beliau bersabda, : <strong><em>“</em></strong><em><strong>Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”</strong></em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Betapa pentingnya ilmu Akidah, sampai-sampai Rasulullah ketika akan wafat masih menguatkan akidah para sahabatnya. Lalu bagaimana dengan keadaan kaum muslimin sekarang? yang justru banyak sebagian kaum muslimin yang memuja-muja kuburan, menjadikan kuburan layaknya masjid, dengan membaca  Al-Qur’an di sana, berdzikir (istigotsah), bahkan sampai sholat di kuburan.</p>
<p><strong> Segera Belajar dan Beramal Sebelum datang Fitnah</strong></p>
<p><strong> </strong>Rosulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> telah berpesan kepada kita (umatnya) agar mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam fitnah yang akan muncul di akhir zaman ini, yakni dengan mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, kemudian mengamalkannya.</p>
<p>Rosulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam </em>bersabda, : <strong>“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.”</strong> (HR. Muslim no. 118, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Sungguh fitnah yang sangat mengerikan, pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir dan sebaliknya. Siapa mereka ? yakni orang yang menjual agamanya demi dunia. Menghabiskan waktu untuk dunianya tanpa memberatkan/mengimbangi dengan akhiratnya.</p>
<p>Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berusaha dan bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan agama Islam ini. <em>Wallaahu a&#8217;lam bish Shawaab.</em></p>
<p><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 10</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/940/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=940&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/pentingnya-belajar-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SAMAKAH ORANG YANG MENGETAHUI DENGAN YANG TIDAK MENGETAHUI</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/samakah-orang-yang-mengetahui-dengan-yang-tidak-mengetahui/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/samakah-orang-yang-mengetahui-dengan-yang-tidak-mengetahui/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 14:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[at-tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[mejlis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[“Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah akan memberikannya pemahaman terhadap Agama.” (Shahih ibnu majah) &#160; Pentingnya ilmu agama Sangat sedikit sekali kaum muslimin yang mau mendalami dan mempelajari agamanya, padahal di zaman sekarang sangatlah mudah untuk mempelajarinya, sudah banyak tersebar buku-buku agama, kajian-kajian di masjid-masjid, bahkan sekarang sudah ada fasilitas internet yang sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=937&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/book-open1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-938" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/book-open1.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>“Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah akan memberikannya pemahaman terhadap Agama.”</strong></p>
<p style="text-align:center;">(Shahih ibnu majah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pentingnya ilmu agama</strong></p>
<p><strong> </strong>Sangat sedikit sekali kaum muslimin yang mau mendalami dan mempelajari agamanya, padahal di zaman sekarang sangatlah mudah untuk mempelajarinya, sudah banyak tersebar buku-buku agama, kajian-kajian di masjid-masjid, bahkan sekarang sudah ada fasilitas internet yang sangat membantu kita untuk mencari semua itu. Tapi masih banyak sekali kaum muslimin yang belum tergerak hatinya untuk mempelajari agamanya.</p>
<p><strong> </strong>Masyarakat kaum muslimin lebih mengutamakan ilmu dunianya dari pada ilmu akhiratnya. Kita melihat banyak kaum muslimin yang berusaha memasukkan anak-anaknya ke lembaga bimbingan belajar untuk belajar bahasa inggris, matematika, atau pelajaran umum lainnya, tetapi amat sangat sedikit para orang tua yang memasukkan anak-anaknya ke madrasah/pondok/lembaga-lembaga yang mempelajari ilmu agama.</p>
<p><strong> </strong>Mempelajari ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap mukmin sebagaimana sabda Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em>, <strong>”Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.”</strong> (Shahihul Jami&#8217; 3913)</p>
<p><strong> </strong>Bukan suatu yang dilarang untuk belajar ilmu dunia, bahkan itu sangat dianjurkan agar kaum muslimin semakin maju di bidang teknologi, akan tetapi jika kita hanya mengejar ilmu dunia tanpa mempelajari ilmu agama maka amat sangat meruginya kita, padahal ilmu yang bisa menghantarkan kita ke surga dan yang bisa menjauhkan kita dari api neraka adalah ilmu agama.</p>
<p><strong> Bahaya mempelajari ilmu dunia tanpa mempelajari ilmu agama</strong></p>
<p><strong> </strong>Sudah banyak kita saksikan para intelektual yang terjerumus oleh ilmunya sendiri. Seperti orang-orang yang duduk di pemerintahan, mereka bukanlah orang yang bodoh dalam ilmu dunia akan tetapi ilmu yang telah mereka pelajari mereka salahgunakan untuk mendapatkan keuntungan dunia.</p>
<p>Sudah sangat banyak kita mendengar dan melihat kasus korupsi, baik di pemerintahan tingkat atas sampai ke pemerintahan tingkat bawah. Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu ? Ya&#8230;. itu salah satu contoh bahaya orang yang sibuk mempelajari ilmu dunia tetapi enggan untuk berusaha mempelajari dan mendalami ilmu agama ilmu agama. Mereka pandai dalam ilmu dunia tetapi bodoh dalam ilmu agama. Padahal ilmu agamalah yang bisa mencegah dan membatasi seseorang dari perbuatan dosa dan maksiat.<span id="more-937"></span></p>
<p><strong> Keutamaan mempelajari ilmu agama</strong></p>
<p><strong> </strong>Keutamaan orang yang mempelajari ilmu agama sangatlah banyak diantaranya :</p>
<p>1.      Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman : <strong>“&#8230;Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”</strong> (Al mujadalah 11)</p>
<p>2.      Ilmu adalah warisan para nabi</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda : <strong>“Ilmu adalah warisan para nabi, para nabi tidaklah             mewariskan emas ataupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu, barang siapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak”.</strong> (Shahihul Jami Al Albani : 6297)</p>
<p>3.      Allah menginginkan kebaikan bagi seorang yang berilmu</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda :  <strong>“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan niscaya akan dipahamkan tentang masalah agama”.</strong> (Shahihul Jam Al Albani&#8217;:6612)</p>
<p>4.      Ilmu adalah jalan menuju surga</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda :  <strong>“Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu  maka Allah akan mempermudah jalannya menuju surga”. </strong>(HR.Muslim)</p>
<p>5.      Ilmu memudahkan kita mengambil pelajaran di setiap peristiwa dan ujian</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman : <strong>“Katakanlah: &#8216;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8217; Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”</strong> (Az-Zumar:9).</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman : <strong>&#8220;Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”</strong> (Ar-Ra&#8217;d:19).</p>
<p><strong>Pelajarilah ilmu agama sebelum terlambat </strong></p>
<p>Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur&#8217;an dan Sunnah.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> telah bersabda :</p>
<p><strong>“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat.”</strong> [HR. Al-Bukhari (6654)]</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> telah bersabda :</p>
<p><strong>“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”.</strong> [HR. Al-Bukhari (989) dan Muslim (157)]</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> juga telah bersabda :</p>
<p><strong>“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama&#8217; sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama&#8217;pun, maka manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu, Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)”</strong> .[HR.Bukhari dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm (2673)]</p>
<p>Saudaraku yang semoga di muliakan Allah,</p>
<p>Berita yang dikabarkan Rasulullah r telah kita lihat sendiri. Di akhir zaman ini sangat banyak fitnah dan maksiat yang betebaran dimana-mana, banyaknya orang-orang yang rakus akan harta benda dunia, serta banyaknya peperangan dimuka bumi ini. Begitu juga para ulama kita yang semakin lama semakin berkurang, hingga nanti yang tersisa hanyalah orang yang bodoh, yakni para da&#8217;i-da&#8217;i yang tidak mempunyai ilmu agama tetapi berbicara masalah agama.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> pernah ditanya oleh seseorang : <strong>“&#8230;&#8230;Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? </strong>Beliau bersabda: <strong>&#8216;Ada&#8217;.</strong> Aku bertanya: <strong>Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan?</strong> Beliau bersabda: <strong>“Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun”</strong>. Aku bertanya: <strong>Apakah dakhanun itu?</strong> Beliau menjawab: “<strong>Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah</strong>”. Aku bertanya: <strong>Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?</strong> Beliau bersabda: <strong>“YA”, DAI-DAI YANG MENGAJAK KE PINTU JAHANAM. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya.</strong> Aku bertanya<strong>: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku</strong>. Beliau bersabda: <strong>“Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”.</strong> Aku bertanya: <strong>Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? </strong>Beliau bersabda: <strong>“Berpegang teguhlah pada Jama&#8217;ah Muslimin dan imamnya”.</strong> Aku bertanya: <strong>“Bagaimana jika tidak ada jama&#8217;ah maupun imamnya?” </strong>Beliau bersabda: <strong>“Hindarilah semua firqah (golongan) itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.”</strong> (HR. Bukhari, Muslim, Baghawi, Ibnu Majah, Hakim, Abu Dawud, Ahmad)</p>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, diakhir zaman ini akan banyak tersebar da&#8217;i-da&#8217;i yang menyeru ke dalam pintu jahanam, kata Rasulullah mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita artinya mereka adalah sama-sama kaum muslimin dan bahasa yang di gunakan adalah bahasa Al-Qur&#8217;an tetapi mereka menyampaikan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an tanpa ilmu.</p>
<p>Akhir kata, penulis mengajak pada pembaca semuanya, mari kita pelajari agama Islam ini dengan sebaik-baiknya, dengan banyak membaca buku-buku yang bermanfaat dan juga sudah diteliti keshahihannya, karena sekarang sangat banyak buku-buku yang menyimpang, dengan banyak menghadiri majlis ilmu, dan juga seringlah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh lagi berilmu.</p>
<p>Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal yang bermanfaat bagi penulis di akhirat kelak.  Aamin&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 9</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/937/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/937/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=937&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/samakah-orang-yang-mengetahui-dengan-yang-tidak-mengetahui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/book-open1.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KEMUNDURAN DAN KELEMAHAN KAUM  MUSLIMIN : SEBAB DAN SOLUSI PEMECAHANNYA</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/kemunduran-dan-kelemahan-kaum-muslimin-sebab-dan-solusi-pemecahannya/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/kemunduran-dan-kelemahan-kaum-muslimin-sebab-dan-solusi-pemecahannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 14:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari fenomena keprihatinan situasi di negara-negara Islam akhir-akhir ini banyak termuat di media massa baik di elektronik, maupun surat kabar. Dari berbagai peristiwa itu, mengakibatkan keadaan kaum muslimin di seluruh dunia semakin lama kian melemah keadaannya. Bersamaan dengan waktu, kebodohan semakin merajalela. Agama pun hanya menjadi ritual di masjid saja. Api keributan antar sesama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=933&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/jalan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-934" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/jalan.jpg?w=150&#038;h=129" alt="" width="150" height="129" /></a>Berawal dari fenomena keprihatinan situasi di negara-negara Islam akhir-akhir ini banyak termuat di media massa baik di elektronik, maupun surat kabar. Dari berbagai peristiwa itu, mengakibatkan keadaan kaum muslimin di seluruh dunia semakin lama kian melemah keadaannya. Bersamaan dengan waktu, kebodohan semakin merajalela. Agama pun hanya menjadi ritual di masjid saja. Api keributan antar sesama semakin lama semakin bertambah membara, hingga pada akhirnya para musuh yang dahulu takut kepada kaum muslimin, kini mereka semakin berani terhadap umat Islam.</p>
<p>Suatu hal yang sudah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, demikian juga oleh sebagian besar non muslim, bahwa umat dan daulah Islam terdahulu adalah bangsa yang paling kuat dan mulia di belahan dunia, sekalipun mereka adalah penduduk minoritas di atas muka bumi ini. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun dalam waktu yang panjang, tanpa ada seorangpun yang menentang tentang hal ini. Adapun sekarang! Telah berubah menjadi negara-negara Islam yang kecil dan lemah, meski penduduknya mayoritas di atas muka bumi.</p>
<p><strong>Apa yang Telah Terjadi? Mengapa Bisa Demikian?</strong></p>
<p>Pertanyaan ini selalu berputar-putar dalam benak kaum muslimin. Dan setiap kelompok atau golongan mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan caranya masing-masing, mencarikan jalan keluar untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin seperti dahulu, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak memahami faktor utama penyebab kelemahan, keterbelakangan, serta takluknya kaum muslimin di hadapan negara-negara barat. Mereka pun merancang program untuk memecahkan masalah ini kemudian berjalan di atasnya, dengan dugaan kejayaan kemuliaan dan kekuasaan kaum muslimin di abad-abad pertama akan terwujud dengan langkah yang mereka tetapkan.</p>
<p>Akan tetapi hal yang sebenarnya, mereka telah salah jalan, walaupun sebagian besar dari mereka melakukannya dengan ikhlas untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dalam mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin seperti dahulu. Sebagian dari mereka menyangka bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah solusi pemecahannya.</p>
<p>Untuk menuju hal itu maka kaum muslimin harus mengumpulkan peralatan-peralatan  canggih dan modern, pemuda-pemuda Islam harus meraih ijasah setinggi-tingginya. Maka setelah semua hal itu tercapai, kita akan menang dan orang-orang kafir-pun akan tunduk dan kita akan kembali jaya seperti sedia kala.</p>
<p>Hal ini bertentangan dengan apa yang di firmankan Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> :</p>
<p><strong><em>“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang</em></strong> <strong><em>mukmin” </em></strong>(QS: Al-Munafiqun: 8)<span id="more-933"></span></p>
<p><strong>Faktor Utama Penyebab Kelemahan</strong></p>
<p>Faktor-faktor penyebab kelemahan, ketertinggalan, dan berkuasanya musuh-musuh Islam atas kaum Muslimin, semuanya bersumber dari satu sebab atau satu faktor utama yang dari faktor inilah tumbuh faktor-faktor yang lainnya. Sebab atau faktor tersebut adalah jahil (tidak tahu) akan hakekat Allah dan ajaran syari&#8217;at Islam, serta tidak tahu-menahu akan kenyataan yang sedang dialami mayoritas umat Islam. Sehingga ilmu menjadi sedikit, sementara kebodohan kian merajalela.</p>
<p>Dari kejahilan inilah muncul berbagai dampak atau akibat lain, seperti:</p>
<p>·   <strong>Penyakit </strong><strong><em>Wahn </em></strong><strong>yakni Cinta dunia dan takut mati. </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda :</p>
<p><strong><em>“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. </em></strong>Berkata seseorang: <strong><em>Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? </em></strong>Beliau bersabda: <strong><em>Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn</em></strong>. Seseorang bertanya: <strong><em>Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? </em></strong>Beliau bersabda: <strong><em>Mencintai dunia dan takut mati”</em></strong>. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)</p>
<p>·   <strong>Lalai dengan kewajiban shalat dan menuruti hawa nafsu.</strong></p>
<p><strong> </strong>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda , <strong><em>“Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri.” </em></strong>(HR. Ath-Thabrani dan Anas)</p>
<p>·   <strong>Tidak memiliki persiapan untuk menghadapi musuh serta rela mengkonsumsi kebutuhan hidup dari musuh-musuh Islam.</strong></p>
<p>·   <strong>Tidak adanya semangat yang tinggi untuk memproduksi kebutuhan dan keperluan sendiri, dari negeri-negeri dan dengan harta kekayaan sendiri.</strong></p>
<p>·   <strong>Dari kejahilan ini juga muncul perpecahan dan perselisihan. Hilangnya kekompakan, persatuan, dan semangat untuk saling tolong-menolong.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Oleh karena itu, dari sebab-sebab yang berbahaya dan ulah-ulah mereka tersebut, tumbuhlah perasaan lemah tatkala menghadapi musuh, keterbelakangan, dan segala hal, kecuali dalam hal yang Allah berkehendak lain di dalamnya hal itu-, lantangnya mereka menuruti nafsu yang diharamkan, sibuk dengan urusan yang dapat menghalangi mereka dari jalan Allah dan petunjuk, tidak adanya persiapan menghadapi musuh, baik dari segi keahlian maupun segi persenjataan yang cukup, yang dapat menakut-nakuti musuh dan membantu umat Islam dalam bereperang, berjihad dan merebut kembali apa saja yang telah dirampas oleh musuh. Mereka pun tidak memiliki persiapan fisik untuk berjihad, tidak mempergunakan harta dengan selayaknya, yaitu mempersiapkan bekal ketika melawan musuh ataupun berjaga-jaga dari serangan jahat mereka, sebagai wujud pembelaan terhadap agama dan tanah air.</p>
<p>Dari penyakit tersebut, timbullah keserakahan untuk menguasai dunia dengan segala macam cara. Muncullah ketamakan untuk mengumpulkan kenikmatan isi dunia dengan berbagai usaha. Sehingga orang tidak lagi peduli terhadap diri sendiri dan dan segala hal yang berkaitan dengan negerinya, meskipun agama ini menjadi taruhannya.</p>
<p>Seperti inilah kondisi mayoritas umat Islam, keadaan inilah yang sekarang menjadi dominan di negara-negara Islam. Bahkan kita bisa katakan bahwa: inilah sesungguhnya realita yang sebenarnya sedang terjadi. Yang ada sekarang hanyalah minim persiapan dan sedikit sikap kehati-hatian yang memang Allah kehendaki terjadi pada kaum muslimin.</p>
<p>Sebelum terjadi salah paham terhadap apa yang telah kami utarakan di atas, perlu kami jelaskan poin terpenting dalam tulisan ini, yaitu kita tidak mengatakan bahwa terbelakang dalam ilmu pengetahuan dan teknologi lebih itu lebih baik, dan kita juga tidak mengatakan bahwa kita harus meninggalkan ilmu-ilmu dunia dan tidak mempelajarinya. Akan tetapi yang kita maksud adalah, telah salah orang yang mengatakan sebab kelemahan dan kekalahan kaum muslimin dikarenakan keterbelakangan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Kita katakan bahwa ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknologi itu kita perlukan dan kita butuhkan, akan tetapi lemahnya teknologi bukanlah penyebab kekalahan kita. Kebutuhan kita untuk kembali kepada agama Islam lebih besar dari pada kebutuhan kita kepada ilmuilmu dunia ini. Karena kembali kepada agama kita merupakan sebab utama yang dapat menghantarkan kita meraih kemenangan bifadlillah insyaa Alloh Ta&#8217;ala, seperti yang telah difirmankan oleh Alloh <em>subhanahu wa ta’ala</em> :</p>
<p><strong><em>“ &#8230;dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Alloh&#8230;” </em></strong>(QS; Al-Anfaal:10)</p>
<p><strong>Jika Demikian, Apa Solusinya ?</strong></p>
<p>Yang jelas solusi yang terbaik adalah seperti apa yang Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> jelaskan dalam Al-Qur&#8217;an dan menurut apa yang telah Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> tauladankan kepada kita semua.</p>
<p><strong><em>“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” </em></strong>(QS; Muhammad: 7)</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda: <strong><em>“&#8230;Alloh timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian”. </em></strong>(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Abu Dawud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Hadist Shohih No. 11).</p>
<p><strong>Kembali Kepada Islam Adalah Solusinya, akan Tetapi Bagaimana Caranya? </strong></p>
<p>Kembali kepada agama Islam tidak akan bisa dan tidak mungkin terjadi kecuali melalui</p>
<p>perkara-perkara berikut ini:</p>
<p><strong>Pertama: Berilmu, untuk menghilangkan kejahilan</strong></p>
<p><strong> </strong>Kita memahami agama Islam dengan pemahaman yang benar sesuai yang dipahami oleh Nabi kita <em>shalallahu’alaihi wassalam</em>, para sahabat Beliau (semoga Alloh ridho kepada mereka semua) dan para pendahulu kita yang sholih.</p>
<p>Adapun orang yang mengaku bahwa dia kembali kepada agama Islam di atas jalan       kesesatan seperti Khawarij, atau Mu&#8217;tazilah dan madzhab-madzhab sesat lainnya, sesunguhnya dia belum kembali kepada agama ini, justru ia menuju kesesatan, wa &#8216;iyadzu billaah.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman :</p>
<p><strong><em>“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa” </em></strong>(QS; Al-An&#8217;aam: 153).</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda: <strong><em>“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya suatu kebaikan, niscaya (Allah) akan memahamkannya dalam masalah agama” </em></strong>(Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p><strong>Kedua : Beramal setelah berilmu.</strong></p>
<p><strong> </strong>Menerapkan Islam (yang telah dipahami dengan benar) dengan penerapan yang tepat, dan tidak mengingkarinya sedikitpun baik itu perkara yang kecil (menurut anggapan sebagian orang) atau perkara yang besar, hanya karena kita tidak mampu melakukan atau dengan kata yang lebih tepat kita tidak menginginkannya atau berat bagi kita untuk berpegang teguh dengan perkara ini atau itu.</p>
<p><strong>Ketiga: Berdakwah </strong></p>
<p><strong> </strong>Kita menyeru dan mengamalkan agama ini dengan sebenar-benarnya, yaitu Islam yang telah kita pahami dan praktikan dengan betul. Dan sebesar-besar bentuk da&#8217;wah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan (al-amru bil ma&#8217;ruf wa nahyu &#8216;anil munkar).</p>
<p>Rosulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda:</p>
<p><strong><em>“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, kalian benar-benar memerintahkan kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar atau Allah benarbenar akan menimpakan kepada kalian siksa kemudian kalian berdoa dan tidak dikabulkan” </em></strong>(Shohih Sunan Tirmidzi menurut Al-Albani No.1762).</p>
<p><strong>Keempat: Sabar</strong></p>
<p><strong> </strong>Rosulullah <em>shalallahu’alaihi wassalam</em> bersabda:</p>
<p><strong><em>“Jagalah Alloh, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Alloh di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.” </em></strong>(HR.Tirmidzi)</p>
<p><strong>Ambillah hikmah dari Perang Badr, dan peperangan lainnya. </strong></p>
<p><strong> </strong>Bahwa pertolongan Allah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang benar-benar mantap kepada tingkat ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kemudian bermutaba&#8217;ah atau mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah tanpa menyimpang dari ajaran beliau.</p>
<p>Inilah jalan yang bisa kita tempuh untuk menghilangkan kekalahan yang menimpa kita dan umat kita, serta membebaskan tanah-tanah kita yang terampas. Karena kitalah yang berhak mendapat kemenangan dari Allah (dengan keutamaan-Nya dan kemuliaan-Nya) dengan sebab kembalinya kita kepada agama kita dan pertolongan kita kepada Alloh. Dan setelahnya, jika kita mampu untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih dari yang dimiliki Eropa dan Amerika maka tidak ada masalah, bahkan ini merupakan hal yang diharapkan. <em>Wallaahu A&#8217;lam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[Ibnu Juwono Kurniawan]</strong></p>
<p><strong>Buletin Jum’at Masjid Al-Inayah Edisi 8</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/933/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/933/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=933&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/04/14/kemunduran-dan-kelemahan-kaum-muslimin-sebab-dan-solusi-pemecahannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/04/jalan.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>HATI-HATI DENGAN SYIRIK DAN TAKLID</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/03/03/hati-hati-dengan-syirik-dan-taklid/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/03/03/hati-hati-dengan-syirik-dan-taklid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 03:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[tingkepan]]></category>
		<category><![CDATA[taqlid]]></category>
		<category><![CDATA[taklid]]></category>
		<category><![CDATA[mengekor]]></category>
		<category><![CDATA[bidaya]]></category>
		<category><![CDATA[sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[nenek moyang]]></category>
		<category><![CDATA[paranormal]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[jimat]]></category>
		<category><![CDATA[inayah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[taurat]]></category>
		<category><![CDATA[buletin al-'inayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama Tauhid, yang mengajak manusia untuk menyembah Allah saja dan tidak menjadikan sekutu selain-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta‘ala : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun…”.  (QS.An-Nissa&#8217; : 36). Begitu pula inti dakwah para Nabi dan Rasul tidak lain untuk mengajarkan tauhid kepada manusia dan melarang berbuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=927&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/03/awas1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-929" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/03/awas1.jpg?w=150&#038;h=114" alt="" width="150" height="114" /></a>Islam adalah agama Tauhid, yang mengajak manusia untuk menyembah Allah saja dan tidak menjadikan sekutu selain-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wa ta‘ala :</em></p>
<p><strong><em>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun</em></strong>…”.  (QS.An-Nissa&#8217; : 36).</p>
<p>Begitu pula inti dakwah para Nabi dan Rasul tidak lain untuk mengajarkan tauhid kepada manusia dan melarang berbuat syirik. Allah <em>subhanahu wa ta‘ala</em> berfirman :</p>
<p><strong><em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;,</em></strong> (QS. An-Nahl : 36)</p>
<p>Yang dimaksud dengan beribadah dan menyembah kepada selain  Allah tidak hanya diartikan dengan menyembah berhala, patung, dsb. Akan tetapi juga termasuk beribadah dan menyembah kepada selain Allah adalah dengan menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tempat memohon, meminta dan berlindung.</p>
<p>Sebagai contoh yang banyak sekali tersebar di masyarakat. Banyak orang yang menggunakan jimat, ada yang berupa cincin (akik), keris, rajah, susuk, ada yang berupa janur atau yang lainnya yang digantungkan di pintu rumah. Ada juga yang mempercayai dukun, paranormal, kyai yang dianggap memiliki kekuatan ghoib, orang pintar, percaya dengan ramalan bintang / zodiak, kartu,sihir, dll banyak sekali. Ya… itu hanya beberapa contoh kecil.<span id="more-927"></span></p>
<p>Jika mereka meyakini bahwa benda tersebut yang mendatangkan manfaat, bisa menolak keburukan, bisa mendatangkan rezeki, maka ia telah melakukan <strong>syirik besar,</strong> jika orang tersebut mati sedangkan ia belum bertaubat maka ia mati dalam keadaan di luar islam (kafir), tetapi jika ia tetap meyakini yang memberikan semua itu adalah Allah akan tetapi benda tersebut diyakini hanya sebagai perantara saja maka ia telah terjerumus kedalam <strong>kekufuran</strong>. Perbedaan antara kekufuran dengan kekafiran sangatlah tipis. Sehingga sangatlah mungkin orang yang tadinya hanya melakukan kekufuran, kemudian syaitan menjerumuskannya hingga ia masuk ke dalam syirik besar yang ia tidak sadari.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda : <strong><em>&#8220;Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik&#8221;</em></strong> (HR. Imam Ahmad)</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> juga bersabda : <strong><em>“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.</em></strong> (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami&#8217; hadits, no : 5939).</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta‘ala</em> berfirman : <strong><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) &#8230;”</em></strong> (QS. An Nisaa: 48)</p>
<p>Bentuk kesyirikan lainnya yang tersebar dimasyarakat adalah kepercayaan masyarakat tentang adanya tanggal/hari/bulan sial, sehingga jika akan melakukan hajatan harus menghitung/mencari tanggal dan bulan yang baik, ada juga yang melakukan ritual-ritual sesaji, melarung sesaji ke laut/ke gunung, ngalap berkah, dll</p>
<p>Kebanyakan masyarakat muslimin mempercayai itu hanya sebatas ikut-ikutan (mengekor / <em>taqlid</em>) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. <span style="text-decoration:underline;">Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Pasti mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu, sesepuh atau tradisi nenek moyang yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya.</span> Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan <strong>&#8220;apa kata orang tua&#8221;,</strong> demikianlah kenyataannya.</p>
<p>Saudaraku yang semoga di muliakan Allah, dalil <strong>&#8220;apa kata orang tua&#8221;,</strong> bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi <strong>permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang</strong>. Maka permasahan ini harus <strong>didudukkan dengan timbangan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</strong>, benarkah atau justru dilarang oleh agama?</p>
<p>Perlu diketahui bahwa <strong>tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin 90% berasal dari kepercayaan animisme dan dinamisme yakni dari ajaran agama Hindu.</strong> Hal ini berdasarkan penelitian dari seorang mualaf Hindu, yang dahulunya seorang pandita yang berkasta Brahmana, beliau sekarang menjadi da&#8217;i yang menyampaikan kepada kaum muslimin bahwa apa yang telah dikerjakan oleh umat muslim selama ini berasal dari ritual ajaran agama Hindu. Beliau sampai membuat buku, yang di dalamnya terdapat 200 dalil lebih akan tetapi dalil tersebut berasal dari kitab-kitab agama Hindu yang menerangkan dan menjelaskan bahwa tradisi yang ada dimasyarakat hampir semuanya berasal dari agama Hindu.</p>
<p>Ya memang itu realitanya, ketika kita bertanya kepada masyarakat <strong>“apakah tingkepan, peringatan 1 sampai 1000 hari kematian seseorang, tabur bunga di makam, tlusupan waktu ada keluarga yang meninggal , ada tuntunannya dalam agama Islam ? ”</strong> Sudah bisa dipastikan, mereka akan menjawab <strong>TIDAK,</strong> bahkan sebagian diam karena bingung mau menjawab apa. Karena memang itu bukan berasal dari agama Islam, melainkan dari agama Hindu. Lalu apakah kita boleh melakukannya ?</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> telah mewanti-wanti kita agar kita tidak terjerumus kedalamnya,</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda : <strong><em>&#8220;Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu.&#8221;</em></strong> (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya).</p>
<p>Dan bahaya yang lebih besar lagi adalah kita telah mencampur adukkan antara agama Islam dengan agama Hindu.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta‘ala</em> berfirman : <strong><em>“Dan janganlah kamu campur adukkan YANG HAK dengan YANG BATHIL dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui.</em></strong> (QS.Al-Baqarah : 42)</p>
<p><strong>Apa yang hak? Yang hak adalah ajaran agama Islam sedangkan yang batil adalah semua ritual yang berasal dari agama Hindu.</strong></p>
<p>Imam Ad Darimi telah meriwayatkan dari Jabir <em>radliyallahu &#8216;anhu</em> bahwasanya Umar bin Khaththab <em>radliyallahu &#8216;anhu</em> mendatangi Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> dengan membawa satu naskah dari Taurat seraya berkata: &#8220;Ya Rasulullah, ini adalah satu naskah dari Taurat.&#8221; Kemudian beliau diam. Setelah itu beliau mulai membacanya. Wajah Rasulullah pun berubah. Maka Abu Bakar <em>radliyallahu &#8216;anhu</em> berkata: &#8220;Celaka engkau, apakah engkau tidak melihat wajah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em>? Umar menoleh kepada wajah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> seraya berkata: &#8220;Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridho Allah sebagai Rabb (kami), Islam sebagai agama (kami), dan Muhammad sebagai Nabi (kami).&#8221; Maka Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda: <strong>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya Musa ada diantara kalian lalu kalian  mengikutinya dan meninggalkan aku. Niscaya kalian akan sesat dari jalan yang lurus. dan kalau sekiranya ia (Nabi Musa &#8216;alaihissalam) masih hidup dan ia dapati  kenabianku,  niscaya ia akan mengikutiku.&#8221;</strong> (Sunan Ad Darimi nomor hadits 44, 1/95)</p>
<p><strong>Saudaraku, sudahkah kita memahami hadits tersebut? Siapa Nabi Musa? Beliau adalah Nabi Utusan Allah, pembawa agama Tauhid. Jika Rasulullah tidak mengijinkan Nabi Musa untuk mencampur adukkan ajarannya dengan agama Islam setelah diutusnya Rasulullah. Dan mengancam kita dengan kesesatan jika kita mengikuti ajaran Nabi Musa, lalu bagaimana jika yang dicampur adukkan adalah agama Hindu, yang membawa ajaran animisme &amp; dinamisme ? Pastilah Beliau akan sangat marah kepada kita, dan jika Rasulullah marah maka Allah pun juga akan murka kepada kita.</strong> <em>Allahu Musta&#8217;an</em></p>
<p>Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar&#8217;i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah r untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka?</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.”</em></strong> (Az Zukhruf: 22)</p>
<p>Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ? ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.</p>
<p><strong><em>“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” </em></strong>(QS. Asy Syu&#8217;ara&#8217;: 74).</p>
<p>Demikian juga Fir&#8217;aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabi Musa, mereka mengatakan:</p>
<p><strong><em>&#8220;Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …&#8221;</em></strong> (QS. Yunus: 78)</p>
<p>Demikianlah, setiap Rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.</p>
<p><strong><em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.&#8221;</em></strong> (QS. Al Baqarah: 170)</p>
<p>Mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.</p>
<p><strong><em>“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?&#8221;</em></strong> (QS. Al Baqarah: 170)</p>
<p>Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah  dan Rasul-Nya. Allah <em>subhanahu wa ta‘ala</em> berfirman :</p>
<p><strong><em>“Dan kalau kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti dugaan-dugaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.&#8221;</em></strong> (QS. Al-An&#8217;am 116).</p>
<p>Syaikh As Sa&#8217;di menafsirkan ayat tersebut, bahwa <em><span style="text-decoration:underline;">kebenaran bukan dilihat dari banyaknya orang yang mengamalkannya, akan tetapi kebenaran adalah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.</span></em> (At Taisir 270 cet. Maktabah Ar Rusyd).</p>
<p>Mari kita pelajari agama Islam dengan sungguh-sungguh, dengan banyak membaca buku-buku dari para &#8216;ulama, mendengarkan ceramah-ceramah yang jelas sumbernya. Karena  faktor utama yang menyebabkan kaum muslimin menyimpang dari aqidah yang lurus adalah kebodohan, yakni tidak mengenal / tidak memahami agamanya sendiri.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman agama yang benar, dan semoga kita terhindar dari tradisi dan hal-hal yang bisa menjerumuskan kita ke dalam kesyirikan.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bissowaab.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/927/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=927&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/03/03/hati-hati-dengan-syirik-dan-taklid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/03/awas1.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SEJENAK BERSAMA DZIKRUL MAUT</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/24/sejenak-bersama-dzikrul-maut/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/24/sejenak-bersama-dzikrul-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 15:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrul maut]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[lalai]]></category>
		<category><![CDATA[sakaratul maut]]></category>
		<category><![CDATA[taz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[“Hai manusia sendirian engkau akan mati, sendirian engkau akan dibangkitkan dan sendirian engkau  akan dimintai pertanggungjawaban” (Hasan Al-Bashri) “Memang mengingat kematian merupakan hal yang menakutkan kebanyakan orang, sehingga topik pembicaraan tentang kematian sering di hindari oleh manusia sehingga paling sering di lupakan, tapi celakanya manusia tidak bisa menghindar dari kematian itu sendiri.” Saudaraku, lewat tulisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=919&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/baqi221.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-922 aligncenter" title="baqi22" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/baqi221.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>“Hai manusia sendirian engkau akan mati,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>sendirian engkau akan dibangkitkan</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>dan sendirian engkau  akan dimintai pertanggungjawaban”</strong></span></p>
<p style="text-align:center;">(Hasan Al-Bashri)</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>“Memang mengingat kematian merupakan hal yang menakutkan kebanyakan orang, sehingga topik pembicaraan tentang kematian sering di hindari oleh manusia sehingga paling sering di lupakan, tapi celakanya manusia tidak bisa menghindar dari kematian itu sendiri.”</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p>Saudaraku, lewat tulisan ini mari sejenak kita luangkan waktu untuk membahas sesuatu yang bisa melembutkan hati kita, yang bisa mendorong diri kita untuk senantiasa bertaubat dan beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan merenungi apa yang akan di alami manusia setelah kehidupan ini, yakni kematian. Sesuatu yang sangat menakutkan, peristiwa yang sangat menyakitkan. Semoga setelah membaca tulisan ini, Allah membukakan hati kita agar kita menjadi hamba-Nya yang bersiap diri menyiapkan bekal untuk perjalanan setelah kematian nanti dengan memperbanyak ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan meninggalkan segala sesuatu yang bisa mendatangkan murka-Nya. Aamin.<span id="more-919"></span></p>
<p><strong>IA DATANG TIBA-TIBA</strong></p>
<p>Kematian sering kali datang secara tiba-tiba. Berapa banyak orang sehat yang mendadak mendapat serangan jantung kemudian meninggal, atau seseorang yang sehat tiba-tiba ditabrak kendaraan ketika sedang di jalan sampai meninggal, kita juga masih ingat peristiwa tsunami dan gempa bumi di Jogja ini, berapa banyak orang yang mati secara tiba-tiba? Dari anak-anak hingga orang tua. Ya, itulah kematian, ia datang secara tiba-tiba. Ia tidak bisa di undurkan barang sedikit pun dan tidak pula di majukan.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman : <strong><em>“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.”</em></strong> (QS. Qaf : 19)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman : <strong><em>“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).”</em></strong> (QS. Yunus : 49)</p>
<p><strong>KEMATIAN TIDAK BISA DIHINDARI</strong></p>
<p>Jika telah datang kematian kepada kita, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menolaknya. Meskipun berobat kepada seorang dokter yang sangat ahli, dengan peralatan yang sangat canggih, kita berusaha membuat benteng yang kokoh, atau pergi ketempat yang aman, semua itu tidak akan ada gunanya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman  <strong><em>: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”.</em></strong> (QS. An-Nisa&#8217; : 78)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman  :  <strong><em>Katakanlah: &#8220;Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja&#8221;.</em></strong> (QS. Al-Ahzab : 16)</p>
<p><strong>SETIAP KEMATIAN MEMILIKI SAKARAT</strong></p>
<p>Mayoritas manusia mengalami sakarat menjelang kematiannya, dan setiap orang akan merasakan dasyatnya sakaratul maut sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.</p>
<p>Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wassalam</em> ketika akan meregang nyawa beliau memohon kepada Allah agar diringankan kematian untuknya. Beliau berdo’a : <strong><em>“Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut atasku !”</em></strong> (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)</p>
<p>Sehingga Aisyah berkata, <strong><em>“Aku tak pernah iri melihat orang yang matinya mudah, semenjak menyaksikan beratnya kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.”</em></strong> (Shahih, HR. Tirmidzi)</p>
<p>Ali bin Abi Thalib pernah memberikan motivasi untuk berperang seraya berkata, <em>“Jika kalian tidak terbunuh, kalian juga pasti akan mati. <strong>Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh rasa sakit akibat seribu tebasan pedang lebih mampu aku tahan daripada rasa sakit akibat kematian di atas kasur.”</strong> </em></p>
<p>Syadad bin Aus berkata<em>,”Kematian itu ialah kengerian di dunia dan akhirat yang paling menyakitkan bagi seorang mukmin. Ia lebih mengerikan daripada digergaji dengan gergaji, dipotong dengan gunting, dan direbus di dalam periuk. Seandainya mayit itu bisa kembali, lalu mengabarkan tentang kematian kepada penduduk dunia, mereka tidak akan bisa mengambil manfaat kehidupan dan tidak akan menikmati tidur.”</em></p>
<p>Ketika Amr meregang nyawa, anaknya bertanya tentang rasa kematian. Amr menjawab, “ <em>Demi Allah, seakan tubuhku terbaring di atas ranjang. Ketika bernafas, aku seperti meminim racun. Seakan-akan, seonggok duri ditusukkan dari telapak kakiku hingga menembus ubun-ubun kepalaku.”</em> (Jami’ Al-’Ulum,449).</p>
<p>Itulah rasa ketika nyawa dicabut, sehingga orang yang berada dalam tekanan sakaratul maut ketika ruh sampai di tenggorokan ia tidak bisa lagi berbicara, badannya kaku, betisnya saling bertaut, dan pandangan matanya terbelalak naik mengikuti ruh yang dicabut dari ubun-ubunnya dan pintu taubat pun ditutup. Maka orang-orang kafir atau orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah pun menyesal dengan penyesalan yang tiada gunanya, sehingga mereka pun membenci diri mereka sendiri.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman : <strong><em>&#8220;Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri”</em></strong> (QS.Al-Mu’min : 10)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman : <strong><em>“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): &#8220;Siapakah yang dapat menyembuhkan?&#8221;, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.”</em></strong> (QS.Al-Qiyaamah : 26-30).</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda : <strong><em>“ Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selagi ruhnya belum sampai di tenggorokannya.”</em></strong> (Hasan, HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah).</p>
<p><strong>SIAPKAN BEKAL SEBELUM AJAL DATANG</strong></p>
<p>Saudaraku yang aku cintai karena Allah, sudah saatnya kita berbenah, membenahi iman kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, beribadah kepadanya, dengan mengerjakan sholat lima waktu berjama’ah di masjid, mengeluarkan zakat bagi yang telah wajib zakat, mengerjakan amalan-amalan sunnah seperti dengan memperbanyak sholat sunnah, dll. Jangan kita remehkan amalan meski itu kecil karena itu bisa memperberat timbangan amal sholeh kita dan juga jangan pernah kita anggap remeh dosa kecil terlebih dosa besar. Jika kita terjerumus ke dalam dosa dan maksiat segeralah bertaubat dan berusaha agar tidak mengulanginya lagi.</p>
<p><strong><em>&#8220;Tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus dan tak ada dosa besar jika diiringi istighfar.” </em></strong>(ithaf as-sa&#8217;adah al-muttaqin 10/687).</p>
<p><strong>MENYAMBUT KEMATIAN DENGAN SENYUMAN</strong></p>
<p>Apa saja yang harus kita siapkan agar bisa menyambut datanganya kematian dengan senyuman :</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>1. Dengan beriman kepada Allah dan segera beramal</strong></span></p>
<p>Yakni dengan menjaga sholat 5 waktu, mengeluarkan zakat, berpuasa ramadhan, dengan berhaji (bagi yang telah mampu)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman : <strong><em>“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”</em></strong> (QS. Al-Baqarah : 197).</p>
<p>Jangan pernah menunda-nunda ibadah, karena kita tidak tahu kapan kematian mendatangi kita, gunakan waktumu sebelum kita kehilangan waktu tersebut, sehingga kita minta dikembalikan di dunia.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman : <strong><em>“hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: &#8220;Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”</em></strong> (QS. Al-Mukminun :99-100)</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wassalam</em> pernah melalui sebuah kuburan dan bertanya, <em>“siapa penghuni kuburan ini ?”</em> Para sahabat berkata, <em>“Si Fulan,”</em> maka beliau bersabda : <strong><em>“Sholat dua rakaat lebih ia sukai dari apa yang tersisa dari dunia kalian.”</em></strong> (HR. Ath-Thabrani, Al-Haitsami mengatakan hadits ini perawinya tsiqah).</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>2. Dengan Menjauhi dosa-dosa besar dan kecil</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>3. Dengan memperbanyak ibadah sunnah</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman dalam hadits Qudsi : <strong><em>“Dan hamba-Ku masih saja mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah), sehingga Aku mencintainya.”</em></strong></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>4. Dengan segera bertaubat dengan sebenar-benarnya</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>5. Dengan senantiasa mengingat kematian</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda : <strong><em>“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (mati)”.</em></strong></p>
<p>Dengan mengingat mati, hati akan menjadi lembut, air mata akan bercucuran karena takut kepada Allah. Dengan mengingat mati, akan mendorong kita untuk senantiasa beribadah, berusaha menjauhi dosa dan maksiat, karena takut jika kematian datang kita dalam keadaan bermaksiat.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Bagaimana cara mengingat kematian (dzikrul maut) ?</span></strong></p>
<p><span style="color:#ff9900;">1. Dengan berziarah kubur</span></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wassalam</em> bersabda : <strong><em>&#8220;Berziarahlah ke kubur karena hal itu dapat mengingatkan kalian akan akhirat&#8221; </em></strong>(Shahih Ibnu Majah, jilid I, hal 113)</p>
<p>Karena tujuan kita berziarah kubur ada 2, yakni mengucapkan salam (mendo’akan si mayit) dan mengingat kematian.</p>
<p>Alangkah jauhnya umat muslimin dari petunjuk Nabi, sehingga tidak sedikit dari kaum muslimin yang terjerumus dalam kesyirikan. Berapa banyak kita jumpai umat muslim menziarahi kuburan wali bahkan kuburan Nabi, kemudian mereka memohon kepada penghuni kubur, mereka juga menjadikan penghuni kubur sebagai perantara untuk berdo’a kepada Allah, berapa banyak kaum muslimin yang melakukan sholat dan membaca Al-Qur’an di kuburan, berzikir di kuburan. Padahal telah jelas banyak dalil-dalil yang mengharamkannya.</p>
<p>Itulah tipu daya syaitan untuk menyesatkan para ahli ibadah yang beribadah tanpa ilmu, syaitan telah membungkus kesyirikan dengan bentuk-bentuk peribadatan yang seolah-olah baik tetapi pada hakikatnya bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">2.  Dengan menjenguk orang sakit</span></p>
<p><span style="color:#ff9900;">3. Dengan berteman dengan orang yang sholeh sehingga bisa saling mengingatkan kepada    akhirat.</span></p>
<p><span style="color:#ff9900;">4. Dengan membaca Al-Qur’an terutama surat-surat yang mengabarkan tentang kematian, siksa kubur, kedahsyatan hari kiamat, neraka.</span></p>
<p><span style="color:#ff9900;">5. Dengan membaca kisah tentang detik- detik kematian  para Nabi, para Sahabat, para Imam, dan orang-orang yang shaleh.</span></p>
<p>Semoga yang sedikit ini bisa mengingatkan diri penulis dan juga kaum muslimin, agar senantiasa menyiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian yang senantiasa mengintai kita.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bisshawaab.</em> <strong>[Adi Abdussalam]</strong></p>
<p><em>[rujukan : Kitab Al-Anfas al-akhirah|Nafas Terakhir oleh Abdul Malik Al-Qasim, Misteri Tamu Terakhir oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Kholid Abu Sholih, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi]</em></p>
<p>Diterbitkan di buletin Al-&#8217;Inayah edisi 3<em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/919/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=919&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/24/sejenak-bersama-dzikrul-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/baqi221.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">baqi22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Pria Idaman</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/bukan-pria-idaman/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/bukan-pria-idaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 07:33:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[at-tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[idaman]]></category>
		<category><![CDATA[ikhwan]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[Manusia idaman sejati adalah makhluk langka. Begitu banyak ujian dan rintangan untuk menjadi seorang idaman sejati. Kebalikannya, yang bukan idaman malah tersebar ke mana-mana. Inilah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Siapakah pria yang tidak pantas menjadi idaman dan tambatan hati? Apa saja ciri-ciri mereka? Mudah-mudahan -dengan izin Allah- kami dapat mengungkapkannya pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=913&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/ikhwan2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-914" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/ikhwan2.jpg?w=120&#038;h=150" alt="" width="120" height="150" /></a>Manusia idaman sejati adalah makhluk  langka. Begitu banyak ujian dan rintangan untuk menjadi seorang idaman  sejati. Kebalikannya, yang bukan idaman malah tersebar ke mana-mana.  Inilah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Siapakah pria yang  tidak pantas menjadi idaman dan tambatan hati? Apa saja ciri-ciri  mereka? Mudah-mudahan -dengan izin Allah- kami dapat mengungkapkannya  pada tulisan yang singkat ini.</p>
<p><strong>Ciri Pertama: Akidahnya Amburadul</strong></p>
<p>Di antara ciri pria semacam ini adalah  ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak.  Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan  jimat-jimat. Ingin buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana  nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi  kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar  semakin PD dalam melangkah.</p>
<p>Inilah ciri pria yang tidak pantas  dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang  rusak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan  bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan  perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang  bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat.  Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.” (Al  Fawaid). Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak -padahal itu  adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut  rusak. Perhatikanlah hal ini!<span id="more-913"></span></p>
<p><strong>Ciri Kedua: Menyia-nyiakan Shalat</strong></p>
<p>Tidak shalat jama’ah di masjid juga  menjadi ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jama’ah bagi pria adalah  suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an dan berbagai  hadits.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan berkata, ”<em>Wahai  Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi  saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada  Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat  di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun   ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan  bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab, ”Ya”. Rasulullah  bersabda, ”Penuhilah seruan (adzan) itu.</em>” (HR. Muslim). Orang buta  ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal  ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri  shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi  Maktum. Dia berkata, “<em>Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali  tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal  falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut</em>”.” (HR. Abu Daud, Shahih)</p>
<p>Lihatlah laki-laki tersebut memiliki  beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya  teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman,  dan [4] banyak binatang buas. Namun karena  dia mendengar adzan, dia  tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai  macam udzur semacam ini, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu  melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam  keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan  penglihatan dan sebagainya?! Imam Asy Syafi’i sendiri mengatakan, “<em>Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.</em>” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha)</p>
<p>Jika pria yang menyia-nyiakan shalat  berjama’ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana  lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjama’ah sendirian  maupun secara berjama’ah?!</p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, mengatakan, ”<em>Kaum  muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan  shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang  paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta  orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang  meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta  mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.</em>”</p>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><strong> Sulit Menundukkan Pandangan </strong></p>
<p>Inilah ciri berikutnya, yaitu pria yang  sulit menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Inilah ciri bukan  pria idaman. Karena Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (yang artinya), “<em>Katakanlah  kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih  suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka  perbuat”.</em>” (QS. An Nur: 30)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah memerintahkan  kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal  yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak  sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera  memalingkan pandangannya.</p>
<p>Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “<em>Aku  bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang  pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera  memalingkan pandanganku</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Boleh jadi laki-laki tersebut jika telah  menjadi suami malah memandang lawan jenisnya sana-sini ketika istrinya  tidak melihat. Kondisi seperti ini pun telah ditegur dalam firman Allah  (yang artinya), “<em>Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.</em>” (QS. Ghofir: 19)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas ketika membicarakan ayat di  atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah  seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang  berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan  pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi  memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan  rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di  dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun  pura-pura menundukkan pandangannya. <em>Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar</em>. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “<em>Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakan ia ingin khianat ataukah tidak.</em>” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p><strong>Ciri Keempat: Senangnya Berdua-duaan</strong></p>
<p>Inilah sikap pria yang tidak baik yang  sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan  (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya  tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat  kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi  kholwat yang juga terlarang.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.</em>” (HR. Bukhari) Dalam hadits lain disebutkan, “<em>Janganlah  seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal  baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara  mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”</em> (HR. Ahmad. Shahih dilihat dari jalur lain)</p>
<p><strong>Ciri Kelima: Tangan Suka Usil</strong></p>
<p>Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.</p>
<p>Dari Abdulloh bin ‘Amr, ”<em>Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.</em>” (HR. Ahmad. Shahih). Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh dia berkata, ”<em>Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah  menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang  wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita</em>.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Malik. Shahih)</p>
<p><strong>Ciri Keenam: Tanpa Arah yang Jelas</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.</em>” (HR. Muslim)</p>
<p>Berarti kriteria pria idaman adalah ia  bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah. Sehingga seorang  pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup  tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun  sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri  dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar  yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa  berwirausaha mandiri.</p>
<p>Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan  istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita  urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan  ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun,  seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup  untuk dapat mendidik istri dan keluarganya.</p>
<p>Sehingga dari sini, seorang pria yang  kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi  karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.</p>
<p>Mudah-mudahan tulisan ini bisa sebagai  petunjuk bagi para wanita muslimah yang ingin memilih laki-laki yang pas  untuk dirinya. Dan juga bisa menjadi koreksi untuk pria agar selalu  introspeksi diri. Nasehat ini pun bisa bermanfaat bagi setiap orang yang  sudah berkeluarga agar menjauhi sifat-sifat keliru di atas. <em>Wallahu waliyyut taufiq</em>.</p>
<p>[Muhammad Abduh Tuasikal]</p>
<p>At Tauhid</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/913/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=913&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/bukan-pria-idaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/ikhwan2.jpg?w=120" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>CINTA RASUL</title>
		<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/cinta-rasul/</link>
		<comments>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/cinta-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 00:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Al-'Inayah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Nida&#039;ul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta rasul]]></category>
		<category><![CDATA[edisi 2]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nidauljannah.wordpress.com/?p=906</guid>
		<description><![CDATA[Rabi&#8217;ul awal, ya……sekarang kita berada di bulan Rabi&#8217;ul awal, yang mana mayoritas kaum muslimin mengenang dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam . Ada yang memperingatinya dengan membaca kitab Barjanzi, ada yang dengan cara merayakannya dengan sekaten seperti yang ada di kota Jogja yang kita cintai ini , ada yang dengan tarian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=906&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/cinta-rasul.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-909" src="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/cinta-rasul.jpg?w=150&#038;h=141" alt="" width="150" height="141" /></a> Rabi&#8217;ul awal, ya……sekarang kita berada di bulan Rabi&#8217;ul awal, yang mana mayoritas kaum muslimin mengenang dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> . Ada yang memperingatinya dengan membaca kitab Barjanzi, ada yang dengan cara merayakannya dengan sekaten seperti yang ada di kota Jogja yang kita cintai ini , ada yang dengan tarian dan nyanyian, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan orang menganggap bahwa itu merupakan salah satu bentuk untuk mengenang  Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan sebagai wujud cinta kita terhadap Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh memprihatinkan, jika perayaan maulid dijadikan barometer apakah orang itu mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> atau tidak. Pemahaman inilah yang  harus kita jelaskan kepada masyarakat muslimin, khususnya di Indonesia, lebih khususnya lagi di kota Jogja yang kita cintai ini agar masyarakat mengetahui bagaimana bentuk dan sikap kita jika kita benar-benar mengaku mencintai  Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta ingin mengenang jasa-jasa dan perjalanan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wujud dan bentuk cinta kita terhadap nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang yang mengaku cinta Rasul, bahkan ada yang mengemas kecintaannya terhadap Rasul dengan bentuk tarian dan nyanyian. Jika ada yang bertanya kepada mereka “apakah kamu cinta Rasul”, dengan enteng mereka menjawab : “Ya, aku cinta Rasul” Banyak orang yang  melantukan bait-bait syair pujian terhadap Rasulullah, tapi ketika azan dikumandangkan mereka tidak pergi untuk sholat berjama’ah ke masjid, jarang mengerjakan sholat-sholat sunnah, lalu mana wujud kecintaan kita yang sesungguhnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang sering mengatakan “Aku cinta Rasul &#8211; aku cinta Rasul”, akan tetapi hanya ucapan saja, tanpa ada pembuktian.  karena jika kita mengaku mencintai sesuatu maka tidak cukup dengan ucapan, akan tetapi harus dengan pembuktian.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah jika kita ingin mencintai Rasulullah dan berharap agar Allah dan Rasul-Nya juga mencintai kita, maka ada syarat-syarat yang harus kita penuhi.</p>
<p style="text-align:justify;">Syarat-syarat tersebut antara lain :<span id="more-906"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.  Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman : <strong>Katakanlah: &#8220;jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.&#8221; Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. </strong>(At-Taubah : 24)</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih di cintainya melebihi kecintaannya pada anaknya, orang tuanya, bahkan seluruh manusia.” </strong>(Shahih, HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.  Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yakni dengan mengimani kemaksuman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”</strong> (QS. An Najm: 1-4)</p>
<p style="text-align:justify;">Bedasarkan ayat diatas, kita wajib mengimani bahwa setiap perbuatan dan perkataan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.  Adab dan akhlak kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara bentuk adab dan akhlak kita kepada Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya, yakni dengan menyampaikan sholawat dan salam kepada beliau dengan sholawat yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”</strong> (HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Sungguh hina orang yang (mendengar) namaku disebut lalu ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku (shallallahu &#8216;alaihi wa sallam).”</strong> (HR.At-Tirmidzi, beliau berkata : Hadits ini Hasan)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.  Ittiba&#8217; (mencontoh) Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta berpegang pada petunjuknya</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Wajib bagi setiap muslim untuk ber ittiba&#8217; (mencontoh) tata cara beribadah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> . Karena syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1.            Niat dengan ikhlas karena Allah Ta&#8217;ala</p>
<p style="text-align:justify;">2.            Ittiba&#8217; ( sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> )</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita beribadah hanya dengan niat ikhlas saja tanpa kita mengikuti petunjuk Rasulullah (cara itu tidak pernah dilakukan Rasulullah), maka ibadah itu tertolak, begitu pula sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”</strong> (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”</strong> (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita memang benar-benar mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka wajib tunduk dan patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan serta menjauhi apa-apa yang dilarang Nabi,  baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak atau yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Ali-Imran :31, yang kata ulama’ ayat ini disebut juga sebagai ayat ikhtibar (ayat penguji) untuk menguji keimanan seseorang, apakah orang tersebut benar-benar mencintai Allah atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala  berfirman  :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, <span style="text-decoration:underline;">ikutilah Aku (muhammad)</span>, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221;</strong> (Ali-Imran:31)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.  Berhakim kepada ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk wujud cinta kepada Rasul adalah menerima keputusan dari Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan / perbedaan pendapat diantara kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman : <strong>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”</strong> (QS. An-Nisa&#8217;: 65)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.  Membela Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membela dan menolong Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman :  <strong>“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”</strong> (QS. Al Hasyr: 8 )</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu bentuk membela Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah dengan membela sahabat dan istri-istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku.</span> Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”</strong> (HR. Muslim no. 2541)</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh keji jika ada yang mencela bahkan mengkafirkan para sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syi&#8217;ah (Rafidhah), di dalam kitab-kitab dan ceramah-ceramah para pemimpin dan ‘ulama mereka. Mereka mencela Abu bakar, Umar, Utsman, bahkan terhadap Ummul mu’minin istri Rasulullah yakni Aisyah <em>radiallahu‘anha</em> dan juga para sahabat yang lainnya. Mereka hanya mengakui kepemimpinan ‘Ali dan Ahlul baitnya, sehingga para ‘ulama telah menghukumi mereka (yakni orang-orang syi’ah) bahwa mereka telah tersesat jauh dari jalan yang lurus, bahkan ada sebagian ‘ulama yang menyatakan bahwa mereka telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.  Membela, Menyebarkan  dan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk wujud cinta kita kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah dengan mengamalkan sunnah-sunnahnya, karena di jaman sekarang sunnah-sunnah Beliau sudah banyak yang dimatikan, tidak lagi dihidupkan, bahkan kaum muslimin sendiri pun merasa aneh dan asing ketika ada orang yang berusaha untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak kita jumpai, ketika ada orang yang memanjangkan jenggot, memendekkan kain/celananya di atas mata kaki, bagi yang wanita dengan memanjangkan jilbabnya hingga menutupi dadanya. Berapa banyak orang yang menyebutnya sebagai kelompok aliran keras? menyebut mereka sebagai teroris?. Kalau kita menyebut pelaku peledakan bom yang mengatas namakan jihad bahkan berpenampilan sunnah, seperti bom yang ada di Bali, Jakarta, atau yang lainnya, memang itu adalah tindakan terorisme, dan tindakkan mereka jelas diharamkan dalam Islam walaupun mereka mengatas namakan Jihad. Akan tetapi jika yang kita cela adalah orang yang benar-benar berusaha untuk menjalankan sunnah dengan memanjangkan jenggot, memendekkan kain/celananya di atas mata kaki lalu kita tuduh sebagai teroris, sebagai kelompok aliran keras, padahal apa yang mereka cela adalah sunnah Rasul, berarti sadar atau tidak sadar mereka telah mencela Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu baru sebagian kecil sunnah-sunnah beliau yang dihidupkan, bagaimana jika sunnah-sunnah beliau yang lain juga dihidupkan? pasti akan semakin banyak yang menentangnya. Karena memang sudah sunnatullah, bahwa Islam ini akan dianggap asing dan aneh oleh pemeluknya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali  asing sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing”</strong> (Shahih, HR. Muslim),</p>
<p style="text-align:justify;">Yakni orang yang senantiasa mengamalkan Islam dengan benar dan berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya, walaupun banyak manusia yang mengucilkannya, menghinanya dan mengasingkannya, maka sesungguhnya orang itulah yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita termasuk orang yang benar-benar mencintai Rasulullah, yang bukan hanya dengan ucapan saja, akan tetapi benar-benar dengan pembuktian dan pengamalan. Semoga kita termasuk orang yang dikumpulkan  Allah di surga-Nya kelak bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Aamin</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> [Adi Abdussalam] </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nidauljannah.wordpress.com/906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nidauljannah.wordpress.com/906/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nidauljannah.wordpress.com&amp;blog=8510900&amp;post=906&amp;subd=nidauljannah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nidauljannah.wordpress.com/2011/02/17/cinta-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/346d60e157bc0febd34202e00f3899ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nidauljannah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nidauljannah.files.wordpress.com/2011/02/cinta-rasul.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
